saya pernah baca di sebuah buku, perahu kertas karya dee kalo ga salah, menyebutkan bahwa seniman yang baik adalah seniman yang tetap bisa berkarya walau ia berada dalam kekosongan. yah kurang lebih seperti itu. saya berfikir sejenak dan menyimpulkan, jika penulis dan seniman itu serupa, maka penulis yang baik adalah penulis yang tetap bisa menulis walau dalam kekosongan.
berarti saya bukan penulis yang baik.
saya sering kali kebingungan apa yang harus saya tulis. saya ingin menjadi penulis tapi saya bukan seperti mereka yang semangat belajar menulis, mungkin karena rasa malas ini lebih besar dari pada motivasi saya menjadi penulis. ini terjadi lagi, sama seperti sekarang. saya memberi judul, menulis sebentar lalu saya hapus setelah satu paragraf selesai dan begitu terus. saya sedang berada dalam kekosongan.
pikiran saya sedang penuh dengan seorang wanita yang saya anggap wanita paling sempurna, setidaknya dari setiap wanita yang saya temui setelah ibu saya. dia memberikan warna, dia memberikan cerita. mungkin bukan waktu yang lama tapi bukan juga waktu yang sebentar untuk mendapatkan dan benar-benar dapat mencintainya.
namun saya sadar dari awal, pemikiran kita berbeda.
sejak awal saya telah mengikhlaskan kehadirannya atau kepergiannya. saya berserah diri kepada Allah tentang jodoh saya dengan dia.
kehadirannya begitu membuat saya bahagia. saya baru sadar, puisi-puisi cinta saya terlahir dari dia. dialah bintang karya saya. tulisan-tulisan saya hampir semuanya terinspirasi tentang dia. bahkan hidup saya terinspirasi dari dia. semua tentang dia dan saya tak tahu kapan atau bagaimana semua tentang dia ini redup.
kepergiannya merupakan hal terburuk yang akan saya hadapi, entah bagaimana caranya dan kapan. membayangkannya saja hati ini sudah terasa sesak dan perih, bagaimana jika itu menjadi nyata? entahlah. aku terlalu menyayanginya.
tapi dia bukanlah prioritasku.
saya tahu akan segala kekurangan dan keterbatasanku. saya tak bisa terus memprioritaskan dia. kadang saya terlalu lelah dan hanya bisa tersenyum saat bermimpi tentangnya, dan itu sering terjadi. kadang saya khawatir saat dia tak memberi kabar namun terlalu ragu untuk mengganggu aktivitasnya. dia punya mimpi yang tinggi, dari dia saya belajar bermimpi. saya tak mau suara tanda masuk pesan atau getar menggangunya. saya akan tetap menunggu, walau kadang aku terlalu rindu.
saya tak suka menulis panjang-panjang bercerita, saya ingin bertemu dia walau hanya sebentar. saya tak suka berhubungan lewat telfon, karena yang ada saya hanya terpesona dengan suaranya. rindu akan dirinya. saya tahu saya bukan orang yang begitu saja mudah ditemui, ada waktu-waktu khusus dan itu membuat saya menderita. tapi karena dia saya belajar tegar dan terus bersyukur.
saya tak suka memberi kabar jelek kepadanya. saya takut dia khawatir karena saya pernah merasakannya. disaat dia mengabarkan sesuatu yang tak sedap dan saya tak bisa berbuat apa-apa, saya memaki diri saya sendiri. saya terlalu boodoh. jujur, saya terhalang dana dan waktu.
saya tak memprioritaskan dia, karena masih banyak mimpi yang harus kita kejar dahulu. terlalu banyak. tapi saya selalu meng-spesial-kan dia di hati saya. banyak orang bilang, sisakan yang spesial di belakang. tapi bukan berarti dia menjadi pilihan terakhir dalam hidup saya. dia hanya begitu spesial dihati saya.
tapi bagaimana saya dan dia kedepan masih menjadi misteri.
saya termasuk orang yang bisa dibilang cuek, dan itu salah saya. tapi beginilah saya menyampaikan perasaan di hati saya. saya bukan orang yang spontan apalagi romantis yang bisa mengejutkan dia, merangkai kata untuknya, atau berada didekatnya setiap waktu. saya mencintai dia dengan cara saya, di atas sajadah mengahadap kiblat sembari berdoa kepada-Nya.