Tuesday, December 25, 2012

Begitu Sesak

begitu banyak teman, keluarga, bahkan sang terkasih bilang kalo saya adalah orang yang rajin belajar. entah mengapa itu hanya membuat saya merasa semakin tertekan dan memperlihatkan seberapa bodoh saya. jika memang benar saya serajin itu belajar, lalu mengapa saya belum mampu meraih nilai-nilai tinggi? yang terjadi sekarang hanyalah saya yang terjatuh.

dari enam mata kuliah, lima diantaranya sudah saya ketahui nilainya. saya masih merasa aman dengan empat huruf B disana, tapi mengapa ada satu yang membut saya sesak. sebodoh itukah saya?

"jadi catatan hitam gue. huaaaa.." - Ichwan Muttaqin
benar apa yang dikata ichwan, salah satu teman se-dorm dan sekelas saya di semester awal ini. sudah tercipta catatatan hitam di awal masa kuliah saya. apa saya kurang rajin belajar? kurang rajin membaca? kurang pintar menangkap pelajaran? sehingga kini dengan apa yang telah saya lakukan saya malah merasa sesak. jika iya, saya akan kembali semangat dan menjadikan huruf E itu menjadi motivasi saya. saya akan bersihkan catatan hitam itu!

Sunday, December 23, 2012

Beginilah Saya

saya pernah baca di sebuah buku, perahu kertas karya dee kalo ga salah, menyebutkan bahwa seniman yang baik adalah seniman yang tetap bisa berkarya walau ia berada dalam kekosongan. yah kurang lebih seperti itu. saya berfikir sejenak dan menyimpulkan, jika penulis dan seniman itu serupa, maka penulis yang baik adalah penulis yang tetap bisa menulis walau dalam kekosongan.

berarti saya bukan penulis yang baik.

saya sering kali kebingungan apa yang harus saya tulis. saya ingin menjadi penulis tapi saya bukan seperti mereka yang semangat belajar menulis, mungkin karena rasa malas ini lebih besar dari pada motivasi saya menjadi penulis. ini terjadi lagi, sama seperti sekarang. saya memberi judul, menulis sebentar lalu saya hapus setelah satu paragraf selesai dan begitu terus. saya sedang berada dalam kekosongan.

pikiran saya sedang penuh dengan seorang wanita yang saya anggap wanita paling sempurna, setidaknya dari setiap wanita yang saya temui setelah ibu saya. dia memberikan warna, dia memberikan cerita. mungkin bukan waktu yang lama tapi bukan juga waktu yang sebentar untuk mendapatkan dan benar-benar dapat mencintainya.

namun saya sadar dari awal, pemikiran kita berbeda.

sejak awal saya telah mengikhlaskan kehadirannya atau kepergiannya. saya berserah diri kepada Allah tentang jodoh saya dengan dia.

kehadirannya begitu membuat saya bahagia. saya baru sadar, puisi-puisi cinta saya terlahir dari dia. dialah bintang karya saya. tulisan-tulisan saya hampir semuanya terinspirasi tentang dia. bahkan hidup saya terinspirasi dari dia. semua tentang dia dan saya tak tahu kapan atau bagaimana semua tentang dia ini redup.

kepergiannya merupakan hal terburuk yang akan saya hadapi, entah bagaimana caranya dan kapan. membayangkannya saja hati ini sudah terasa sesak dan perih, bagaimana jika itu menjadi nyata? entahlah. aku terlalu menyayanginya.

tapi dia bukanlah prioritasku.

saya tahu akan segala kekurangan dan keterbatasanku. saya tak bisa terus memprioritaskan dia. kadang saya terlalu lelah dan hanya bisa tersenyum saat bermimpi tentangnya, dan itu sering terjadi. kadang saya khawatir saat dia tak memberi kabar namun terlalu ragu untuk mengganggu aktivitasnya. dia punya mimpi yang tinggi, dari dia saya belajar bermimpi. saya tak mau suara tanda masuk pesan atau getar menggangunya. saya akan tetap menunggu, walau kadang aku terlalu rindu.

saya tak suka menulis panjang-panjang bercerita, saya ingin bertemu dia walau hanya sebentar. saya tak suka berhubungan lewat telfon, karena yang ada saya hanya terpesona dengan suaranya. rindu akan dirinya. saya tahu saya bukan orang yang begitu saja mudah ditemui, ada waktu-waktu khusus dan itu membuat saya menderita. tapi karena dia saya belajar tegar dan terus bersyukur.

saya tak suka memberi kabar jelek kepadanya. saya takut dia khawatir karena saya pernah merasakannya. disaat dia mengabarkan sesuatu yang tak sedap dan saya tak bisa berbuat apa-apa, saya memaki diri saya sendiri. saya terlalu boodoh. jujur, saya terhalang dana dan waktu.

saya tak memprioritaskan dia, karena masih banyak mimpi yang harus kita kejar dahulu. terlalu banyak. tapi saya selalu meng-spesial-kan dia di hati saya. banyak orang bilang, sisakan yang spesial di belakang. tapi bukan berarti dia menjadi pilihan terakhir dalam hidup saya. dia hanya begitu spesial dihati saya.

tapi bagaimana saya dan dia kedepan masih menjadi misteri.

saya termasuk orang yang bisa dibilang cuek, dan itu salah saya. tapi beginilah saya menyampaikan perasaan di hati saya. saya bukan orang yang spontan apalagi romantis yang bisa mengejutkan dia, merangkai kata untuknya, atau berada didekatnya setiap waktu. saya mencintai dia dengan cara saya, di atas sajadah mengahadap kiblat sembari berdoa kepada-Nya.

Thursday, December 20, 2012

Angkatan Perak Korps Taruna


dari sekian banyak organisasi, TARUNA pasti selalu ingin membuat kamu pulang.
Rifa Nailufar, 20 Desember 2012


hari ini dan hari sebelumnya kembali membuat saya bersyukur, Alhamdulillah, saya masih memiliki kalian. saya menjenguk keluarga baru saya, adik baru saya di tempat yang membuat kenangan itu terjadi dan indah saat mengenangnya. saya kembali ke maya sanggraha, kembali menjenguk mereka angkatan perak Korps Taruna SMA Negeri 3 Bogor.


melihat kata-kata yang dikatakan Rifa di atas saya menjadi tersadar memang iya Taruna itu seperti rumah disaat kamu menganggapnya begitu. saat saya kembali ke-"rumah" tersebut saya bertemu dengan mereka yang disebut angkatan perak itu.


kenapa angkatan perak? mereka datang disaat Taruna memeluk angka 25 dan otomatis mereka menjadi keluarga kami yang ber-"tittle"-kan angkatan 25. entah mengapa mereka terlihat begitu menarik di mata saya. bagaimana tidak? sebelum mereka datang saja mereka sudah dijuluki dengan sebutan angkatan perak, seperti gelar yang mereka dapatkan sebelum mereka lahir.

mereka mungkin tak seberapa, mereka membutuhkan kakak-kakak mereka untuk melalui perang besar nanti tapi begitu saya terjun dan melihat mereka saya terpukau. saya terpukau dengan senyum ikhlas dan  drap langkah yang masih kasar, tapi memukau.

saya melihat mereka bukan sebagai angakatan 25 Korps Taruna, tapi sebagai angkatan pembangun Korps Taruna. entah mengapa saya yakin mereka lah titik baliknya, bukan 22.

minggu nanti mereka akan menghadapi perang besar, lkbb xxii di balaikota. saya mengharapkan mereka mendapat juara, tak hanya piala tapi rasa bangga nya juga. tapi saya rasa itu bukan yang terpenting, disaat jalan pulang saya kembali berfikir.

saya lebih menginginkan mereka tetap bersama setelah ini, tetap semangat dan tetap menyimpan Taruna di hati mereka seperti kami yang telah lahir dan bertemu Taruna terlebih dahulu.
salam semngat saya untuk mereka, doa dan semngat saya pun senantiasa menyertai kalian. berikan yang terbaik, bukan hanya bagus tapi terbaik. saya yakin kalian bisa. saya yakin.

entah bagaimana menggambarkannya, tapi saya senang dan beryukur bisa mengenal dan menyambut angkatan perak sebagai keluarga kami. tetap semangat!

Wednesday, December 19, 2012

Angka Baru, Tanggung Jawab baru, SEMANGAT BARU!

"everyone's hopes are my hopes" - takeru, digimon adventure.

baru saja saya menghabiskan satu season film anime lama, sebelum saya sd atau baru-baru masuk sd kalo gaslah, dan mendengar kata-kata diatas bertepatan dengan apa yang saya pikirkan. tepat dihari ini mereka, orang yang selalu ada di hati saya, memanjatkan doa-doa baik dan mngharukan. dari bunda saya tercinta, kakak, daddy, uwa, rifa, dan teman-teman. doa mereka adalah doaku juga.

doa mereka kini berada di hati saya. doa mereka kini saya terjemahkan menjadi sesuatu yang baru dalam hati saya. menjadi tanggung jawab baru, menjadi SEMANGAT baru dalam angka yang baru di hidup saya.
"beberapa hari kebelakang saya berfikir, apa yang akan saya lakukan satu tahun mendatang untuk menjemput angka dua? "
saya merasa belum cukup dewasa, belum cukup siap menjadi ikhwan ataupun seorang pria. saya belum cukup siap. tapi entah mengapa, disaat mereka hadir bersama doa-doa itu saya sadar jika saya tidak sendiri disini, saya masih memiliki mereka dibelakang saya, membantu saya, menyuport saya, dan berdoa untuk saya.

banyak keputusan dan tindakan yang saya ambil ke depan, tapi saya berharap itu selalu berada di jalan Allah dan bermanfaat untuk sesama. saya sangat berharap. saya berterimakasih untuk sang maha pencipta, Alhamdulillah. saya berterimakasih kepada orang tua, kakak, uwa, mereka yang berada di hatiku dan mereka yang menyimpanku di hati mereka. terimakasih banyak saya ucapkan. terimakasih.

mungkin ini saatnya saya pergi dari baringan saya dan menggapai angka baru dengan tanggung jawab baru dan didasari dengan SEMANGAT yang baru pula. BISMILLAH...

Tuesday, December 18, 2012

Indahnya Berbaring

saya sering kali menyadari bahwa saya adalah orang yang sangat teramat malas. saya lebih suka berbaring di kasur saya dari pada duduk dibelakang meja dan membaca. saya sering kali lebih memilih berbaring dikasur saya dari pada hanya berjalan ringan untuk menyapa matahari.tapi tak jarang pula saya pergi dari tempat tidur hanya untuk melihat apa yang telah saya lewatkan.

dengan bebaring saja saya biasanya bermimpi. kata orang di jaman sekarang ini semua udah harus bayar, kecuali senyum, bermimpi, dan kentut. kenapa belakangnya harus kentut ya? tapi bener saja dan setiap saya bermimpi saya merasa nyaman, tak ada beban harus membayar. siapa yang ga mau gratisan bukan? tapi sering kali pula saya terlarut dalam mimpi saya dan membiarkannya hanya menjadi mimpi.

dengan berbaring saya kadanag merencanakan apa yang saya akan lakuakn untuk menggapai mimpi saya. rencana itu sendiri biasanya datang disaat kita merasa nyaman dalam suasana tenang, tanpa beban. tapi itu lagi, saya hanya lebih senang berbaring dan membiarkan rencana itu tetap menjadi rencana.

tapi dari sekian ribu baringan saya, baringan saya hari ini menuntun saya kepada suatu hal yang baru saja saya sadari. saya tidak benar-benar ingin menjadi presiden, wali kota, ketua bem, penulis, potografer, pementas, atau apapun yang menyebabkan motivasi itu sering kali luntur disaat saya berbaring. menyebabkan mimpi dan rencana itu tetap ada di otak dan hati saya karena saya sering kali melupakan apa yang benar-benar saya inginkan disaat saya berbaring dan menyusun strategi.

kali ini, saya akan pergi dari baringan saya dan berkata "ini saatnya saya membahagiakan orang tua saya."

Friday, December 14, 2012

Realistis dan Pesimistis

semenjak masa-masa putih abu-abu gue dan konco kocak gue sudah menyadari satuhal, menjadi realistis itu mempet dikit sama yang namanya pesimistis atau dengan kata lain, ketika kita melihat sesuatu sebagai hal yang realistis kita menjadi seseorang yang sedikit pesimis. bagaimana mungkin?

ini terjadi juga dengn gue yang belakangan semangat banget jadi diplomat atau presiden, semangat banget jadi ketua bem, semangat banget sibuk dengan organisasi dan semacamnya tapi setelah melihatnya dengan aspek yang lain (bukan hanya bermimpi) saya sedikit sadar bahwa itu tak semudah yang direncanakan. hidup bukan hanya untuk direncanakan, tetapi dijalankan.

melihat sesuatu yang ada, semua terlihat sulit dan kadang orang berkata "yah realistis sajalah.." dan disaat itu juga kita jiper. kita sedikit pesimis dan berfikir "iya juga sih," dan mengubur mimpi kita. rencana indah itu.

cerita lain. gue punya temen yang semenjak dulu berencana dan bercita-cita banget menjadi dokter. dia pintar tapi dia tak berhasil masuk ke salah satu SMA negeri favorit di Bogor. setelah ngobrol-ngobrol lagi sama dia ternyata dia masuk fakultas sastra di salah satu universitas terkenal di pulau Jawa ini.

gue nanya ke dia "kenapa ga masuk kedokteran?" dia bilang ternyata masuk kedokteran itu susah dan peminatnya banyak. dia menjadi sedikit realistis tapi secara tidak langsung dia menjadi pesimis, setidaknya itu yang gue tangkep.

selain itu salah satu faktor lainnya umur, menurut gue umur kita itu berbanding lurus dengan tingkat ke realistisan kita dalam memandang suatu hal. mungkin karena kita mulai melihat dunia dari segala aspek, terutama melihat semua halangan dari cita-cita kita yang pada akhirnya itu membawa gue kedalam kesimpulan lain bahwa peningkatan umur itu sendiri berbanding terbalik dengan mimpi dan cita-cita kita.  sadar kan kalo semakin kita besar kita semakin lupa dengan cita-cita kita (setidaknya kebanyakan orang seperti itu) atau setidaknya menyimpannya agar tetap menjadi mimpi.

kalo kata anak gaul "wake up guys! YOLO!" you only life once. yah, setidaknya semungkin apapun lu masuk surga ya lu cuman punya sekali ini hidup di dunia, lu hanya bisa sekali ini jadi dokter, cuman disini lu bisa jadi presiden, dan cuma di bumi ini lu bisa menjadi sesuatu yang lu mau.

semua ini membawa gue dari tidurnya rasa ambisius gue. rasa yang sempat hilang dan membuat gue hampa. gue mungkin dituntut realistis, tapi gue ga mau itu membuat gue berdiam dan tak melakukan apa-apa. gue harus kembali semangat, kembali memiliki semngat yang dulu. kembali memiliki mimpi!