Tuesday, September 24, 2013

Demam Panggung

hai halaman yang sudah usang. lama tak menulis. belakangan ini saya semakin tidak bisa mengontrol waktu. benar kata Rifa, seharusnya saya bisa memanage waktu dengan baik. saya mungkin tak sesibuk yang lain, tapi entah mengapa saya seperti lebih mengabaikan orang-orang diluar radius 3 meter dari diri saya.

masih ada beberapa event besar menunggu didepan. ada beberapa diantaranya saya merasa gabut. saya ga tahu karena apa tapi sepertinya saya ketinggalan banyak info tentang event itu. saya lbih memilih untuk bersikap "yasudahlah" akhir-akhir ini. 

namun akhir-akhir ini saya di percayai untuk memegang peran ketua dibeberapa kegiatan, semakin membuat saya minde. saya semakin tidak percaya diri dan tidak tahu harus menjadi pemimpin seperti apa? semua datang bertubi-tubi. dan jujur, ini membuat saya menjadi sosok yang emosian. saya menjadi orang yang mudah marah walau saya selalu menhan diri untuk tidak marah-marah, tidak percaya dengan orang lain, dan kesal setiap ada orang yang susah untuk diandalkan padahal sebelumnya sudah dipercaya. mungkin saya demam panggung.

untuk orang-orang yang ada disekitar saya, please... kritik dan berikan saya saran. 


Sunday, September 1, 2013

3 Tipe

katanya jadi penulis harus banyak memperhatikan. jadi musisi harus banyak mendengar. jadi seniman harus banyak melihat. dan sebagainya dan sebagainya. tetapi bagiku, sebagai pemimpin kita harus banyak mendengar, melihat, memperhatikan, merasa, dan melakukan segala hal. maka dari itu saya setuju jika para kepo-ers adalah calon-calon pemimpin. #loh

maka dari itu, sama seperti dulu saya sering melihat, mendekati, dan merasakan berada didekat orang-orang yang nantinya akan menjadi generasi tua. yang nantinya akan di protes atau memprotes generasi muda kelak. sehingga saya membagi manusia sekeliling saya menjadi 3 tipe.

tipe pertama adalah tipe yang saya suka, orang yang enak dijadikan teman dan kerabat kerja. tipe ini adalah orang yang mengerti kau sebagai manusia biasa, dan bisa bekerja sama dengan profesional. bisa membagi dua dunia, antara kerjaan dan pribadi. tidak mencampurkan segalanya dan yang paling penting, punya interest yang sama di kedua dunia. sehingga akan terus nyambung dan sebagainya. apalagi jika memang tipe kerja kalian sama.

yang kedua adalah tipe orang yang enak di ajak temenan tapi ga di ajak kerja. tipe yang banyak di temui. orang-orang yang enak di ajak ngobrol dan bercanda. bisa membawa suasana tapi susah untuk diajak serius dan kerja cepat. banyak menunda bdan beralasan. selalu mencari simpati dan toleransi.

yang ketiga adalah tipe orang yang enak di ajak kerja tapi ga di ajak temenan. orang-orang yang kerja nya bagus, cepat, dan tepat namun bukan orang yang bagus untuk dijadikan teman. atau bisa dibilang, orang yang bisa diajak ngbrol dan kerja secara profesional tapi ga punya interes yang sama di daily life. 

tapi saya yakin, kita semua membutuhkan orang-orang dengan tiga tipe tadi dalam suatu organisasi. mungkn bagus jika semua anggota satu organisasi memiliki tipeyang pertama, tapi nantinya kita akan menjadi tertutup dengan dunia luar, kita akan terfokus hanya pada beberapa orang. anggota organisasi itu saja. kita bermain dan bekerja dengan orang yang sama, sehingga kita tidak punya skill "dealing" dengan karakteristik yang berbeda bukan?

kalau ditanya gue tipe yang mana? tergantung. :p

Dilema Diri

entah mengapa belakangan ini banyak yang harus saya pikirkan. keadaan yang membuat saya tertekan ini malah membuat saya tak memikirkan apa-apa. kekanak-kanakan memang, tapi begitu adanya. saya semakin malas mengambil keputusan berjangka panjang karena waktu berfikirpun sedikit. atau saya malah lebih memilih membaca komik dari pada kesal sendiri.

belakangan ini juga saya sudah memulai mengambil langkah untuk melakukan apa yang saya mau. saya mulai tidak peduli dengan kata orang, dan menghilangkan rasa toleransi dan tidak enakan saya. untuk beberapa bagian, itu memang menyenangkan dan membuat saya menjadi apa adanya. tapi disisi lain, ini tak semudah itu.

dengan banyak nya acara dan hal-hal yang saya pikirkan membuat otak saya menjadi rumit. saya tidak tahu mana yang harus diprioritaskan. ditambah, with the name of "be myself" membuat saya menjadi agak tidak percaya dengan kinerja orang lain. membuat saya sedikit perfeksionis. dan itu membuat saya merasa, kebebasan saya arus mengorbankan beberapa orang disekitar saya,

mungkin ada beberapa orang yang terbiasa dengan perubahan dan hidup keras, tapi beberapa tidak. dengan menjadi diri sendiri bukan berarti saya harus keras dan tidak peduli pada orang lain bukan? karena pada suatu saat saya tahu saya akan membutuhkan mereka, dan saat ini pula kita menjadi individual yang saling membutuhkan.

saling membutuhkan ini harus didasari rasa nyaman pula. disaat kita nyaman, kita pula akan datang saat butuh. tapi hidup tidak sebaik pandangan para liberalis. kadang rasa nyaman yang kita berikan, menjadi candu pada orang lain. ia terus berada di pangkuan kita dan terus saja begitu. namun, disaat kita berdiri dan melepaskan pangkuan serta berkata "duduklah di tempatmu sendiri" tidak semua orang menerimanya. kadang ia akan merasa dongkol dan menganggap kita bukan orang yang asik untuk dijadikan teman. sehingga pada akhirnya kita harus memilih, menyamankan diri kita sendiri atau orang lain?