Friday, November 29, 2013

akhir

kakak saya bertanya "nyesel sibuk?" dan saya jawab dengan kata ngga kok.


mungkin ini saatnya melepas semuanya.
bersamaan dengan berakhirnya cerita, perasaan, sedih, rindu, semua itu. blog ini saya tinggalkan.


terimakasih.

Sunday, November 24, 2013

desperado momento. :|

depresi. frustasi. kecewa. sedih.

entah apa lagi kata yang bisa menggambarkan keadaan seperti sekarang. baru kali ini saya benar-benar ingin melampiaskan segalanya. saya benar-benar ingin menghisap puntung rokok yang katanya bisa mengurangi beban, apa iya? dan parahnya.. baru kali ini saya tahu rasanya 'ingin bunuh diri'.

se-despresi itu? mungkin.

tapi saya masih punya akal, saya masih punya iman. saya sadar saya masih terlalu kanak-kanak untuk menghadapi hal-hal ini. banyak yang bilang "kalo jadi lu gue ga kuat ja". apa saya kuat? tidak. saya hanya berpura-pura kuat.

disaat orang bertanya "bagaimana?" saya belum tahu akan berakata apa. selama ini kata-kata yang dikeluarkan terasa salah. saya tidak berani lagi.

saya pengecut? mungkin. atau lebih tepatnya saya lemah. jika ada lagu yang menyaktakan "what doesn't kill you make you stronger" itu benar, dalam situasi seperti ini saya akan berfikir "what if it kills?"

entah semalam saya mimpi apa, tetapi saya sedikit mendapat pencerahan. entah apa yang saya pikirkan, tapi sekarang saya mendapat sedikit kelegaan. atau saya benar-benar tidak peduli if it really kills me.

Tuesday, November 19, 2013

Gagal

saya benar-benar merasa gagal. dulu saya mempunyai cita-cita untuk menjadi ketua bem, walikota Bogor, bahkan Presiden Indonesia. kini saya pesimis. memipin satu acara saja saya belum bisa. hal-hal yang menyangkut kepemimpinan dalam diri saya ternyata sangat kurang. atau saya ternyata memang bukan tipe pemimpin.

saya sadar, saya telah gagal memimpin acara ini, gagal menjadi pacar, gagal menjadi sahabat. dan ini semakin membuat saya sadar, apa saya akan gagal juga sebagai anak? atau gagal sebagai manusia?

saya kira dulu banyak kegiatan akan membuat saya siap untuk terjun di dunia kerja dan menjadi seorang pemimpin. ternyata saya salah. ini malah membuat saya gagal di hampir semua hal.

mungkin ini bukan saatnya saya mengeluh. mungkin ini saatnya saya memperbaiki apa yang telah saya abaikan.

ternyata apa yang di ucapkan Chaerul Tanjung itu benar, kira-kira kata-kata yang menyempaikan "mulailah dari apa yang bisa kau kerjakan".

Wednesday, October 30, 2013

aku, kamu, dan mungkin.. kita.

ini adalah moment dimana kau mulai adar bahwa perasaan dan ikatan itu tak selamanya menghalangi. ditengah kegiatan membuat paper untuk ujian saya mendapatkan pesan dari rifa. dia bilang dia kangen. dia takut saya marah karena satu dan beberapa hal. tenang fa, aku takkan marah. sempat aku merasa kecewa, namun aku sadar aku bukan kecewa padanya, aku kecewa pada diriku sendiri.

sempat aku merasakan bahwa perasan dan ikatan itu tak banyak menguntungkan. aku belajar menjaga jarak. untuk beberapa hal itu berhasil, tapi untuk rifa? itu tak berhasil sama sekali. 

semenjak hari itu, hampir setiap malam dia selalu ada di mimpi saya. mungkin terdengar agak lebay, tapi begitulah. aku sadar aku merindukannya. aku masih sayang dia. 

namun aku percaya kamu tahu, aku menyayangimu dengan caraku. kau boleh menyayangiku dengan caramu. mungkin nanti kita akan menemukan cara kita untuk menyayangi. :)

Tuesday, September 24, 2013

Demam Panggung

hai halaman yang sudah usang. lama tak menulis. belakangan ini saya semakin tidak bisa mengontrol waktu. benar kata Rifa, seharusnya saya bisa memanage waktu dengan baik. saya mungkin tak sesibuk yang lain, tapi entah mengapa saya seperti lebih mengabaikan orang-orang diluar radius 3 meter dari diri saya.

masih ada beberapa event besar menunggu didepan. ada beberapa diantaranya saya merasa gabut. saya ga tahu karena apa tapi sepertinya saya ketinggalan banyak info tentang event itu. saya lbih memilih untuk bersikap "yasudahlah" akhir-akhir ini. 

namun akhir-akhir ini saya di percayai untuk memegang peran ketua dibeberapa kegiatan, semakin membuat saya minde. saya semakin tidak percaya diri dan tidak tahu harus menjadi pemimpin seperti apa? semua datang bertubi-tubi. dan jujur, ini membuat saya menjadi sosok yang emosian. saya menjadi orang yang mudah marah walau saya selalu menhan diri untuk tidak marah-marah, tidak percaya dengan orang lain, dan kesal setiap ada orang yang susah untuk diandalkan padahal sebelumnya sudah dipercaya. mungkin saya demam panggung.

untuk orang-orang yang ada disekitar saya, please... kritik dan berikan saya saran. 


Sunday, September 1, 2013

3 Tipe

katanya jadi penulis harus banyak memperhatikan. jadi musisi harus banyak mendengar. jadi seniman harus banyak melihat. dan sebagainya dan sebagainya. tetapi bagiku, sebagai pemimpin kita harus banyak mendengar, melihat, memperhatikan, merasa, dan melakukan segala hal. maka dari itu saya setuju jika para kepo-ers adalah calon-calon pemimpin. #loh

maka dari itu, sama seperti dulu saya sering melihat, mendekati, dan merasakan berada didekat orang-orang yang nantinya akan menjadi generasi tua. yang nantinya akan di protes atau memprotes generasi muda kelak. sehingga saya membagi manusia sekeliling saya menjadi 3 tipe.

tipe pertama adalah tipe yang saya suka, orang yang enak dijadikan teman dan kerabat kerja. tipe ini adalah orang yang mengerti kau sebagai manusia biasa, dan bisa bekerja sama dengan profesional. bisa membagi dua dunia, antara kerjaan dan pribadi. tidak mencampurkan segalanya dan yang paling penting, punya interest yang sama di kedua dunia. sehingga akan terus nyambung dan sebagainya. apalagi jika memang tipe kerja kalian sama.

yang kedua adalah tipe orang yang enak di ajak temenan tapi ga di ajak kerja. tipe yang banyak di temui. orang-orang yang enak di ajak ngobrol dan bercanda. bisa membawa suasana tapi susah untuk diajak serius dan kerja cepat. banyak menunda bdan beralasan. selalu mencari simpati dan toleransi.

yang ketiga adalah tipe orang yang enak di ajak kerja tapi ga di ajak temenan. orang-orang yang kerja nya bagus, cepat, dan tepat namun bukan orang yang bagus untuk dijadikan teman. atau bisa dibilang, orang yang bisa diajak ngbrol dan kerja secara profesional tapi ga punya interes yang sama di daily life. 

tapi saya yakin, kita semua membutuhkan orang-orang dengan tiga tipe tadi dalam suatu organisasi. mungkn bagus jika semua anggota satu organisasi memiliki tipeyang pertama, tapi nantinya kita akan menjadi tertutup dengan dunia luar, kita akan terfokus hanya pada beberapa orang. anggota organisasi itu saja. kita bermain dan bekerja dengan orang yang sama, sehingga kita tidak punya skill "dealing" dengan karakteristik yang berbeda bukan?

kalau ditanya gue tipe yang mana? tergantung. :p

Dilema Diri

entah mengapa belakangan ini banyak yang harus saya pikirkan. keadaan yang membuat saya tertekan ini malah membuat saya tak memikirkan apa-apa. kekanak-kanakan memang, tapi begitu adanya. saya semakin malas mengambil keputusan berjangka panjang karena waktu berfikirpun sedikit. atau saya malah lebih memilih membaca komik dari pada kesal sendiri.

belakangan ini juga saya sudah memulai mengambil langkah untuk melakukan apa yang saya mau. saya mulai tidak peduli dengan kata orang, dan menghilangkan rasa toleransi dan tidak enakan saya. untuk beberapa bagian, itu memang menyenangkan dan membuat saya menjadi apa adanya. tapi disisi lain, ini tak semudah itu.

dengan banyak nya acara dan hal-hal yang saya pikirkan membuat otak saya menjadi rumit. saya tidak tahu mana yang harus diprioritaskan. ditambah, with the name of "be myself" membuat saya menjadi agak tidak percaya dengan kinerja orang lain. membuat saya sedikit perfeksionis. dan itu membuat saya merasa, kebebasan saya arus mengorbankan beberapa orang disekitar saya,

mungkin ada beberapa orang yang terbiasa dengan perubahan dan hidup keras, tapi beberapa tidak. dengan menjadi diri sendiri bukan berarti saya harus keras dan tidak peduli pada orang lain bukan? karena pada suatu saat saya tahu saya akan membutuhkan mereka, dan saat ini pula kita menjadi individual yang saling membutuhkan.

saling membutuhkan ini harus didasari rasa nyaman pula. disaat kita nyaman, kita pula akan datang saat butuh. tapi hidup tidak sebaik pandangan para liberalis. kadang rasa nyaman yang kita berikan, menjadi candu pada orang lain. ia terus berada di pangkuan kita dan terus saja begitu. namun, disaat kita berdiri dan melepaskan pangkuan serta berkata "duduklah di tempatmu sendiri" tidak semua orang menerimanya. kadang ia akan merasa dongkol dan menganggap kita bukan orang yang asik untuk dijadikan teman. sehingga pada akhirnya kita harus memilih, menyamankan diri kita sendiri atau orang lain?

Thursday, August 8, 2013

Pertanyaan Bodoh

mungkin saya kurang sopan menulis hal yang satu ini. mungkin saya kurang berpengalaman atau semcamnya tapi saya hanya penasaran dan mencoba menjabarkan pertanyaan. apakah nanti ada yang dapat menjawab atau tidak saya serahkan pada waktu.

orang tua sekarang banyak, banyak yang tingkahnya tidak saya mengerti. tapi saya tahu mereka menginginkan yang terbaik untuk anaknya. atau untuk nama keluaraga, atau untuk nama mereka. saya tahu mereka menginginkan anaknya di jalan yang benar. atau dijalan yang dulu mereka ambil, atau jalan yang mereka tak sempat ambil, atau jalan yang mana orang bilang itu lebih baik. ridha orang tua juga kan ridha Allah. tapi Allah lebih tahu yang terbaik dari pada orang tua kan?

banyak cerita dan pengalaman teman-teman yang saya dengar. ada orang tua yang rela berkorban jual tanah untuk pendidikan anaknya, tapi baiknya anaknya lebih memilih untuk meringankan beban orang tuanya dan mengambil beasiswa. walau dia tahu, pilihan itu bukan apa yang ia ingini. saat itu. tapi ada juga orang tua yang memaksakan anaknya masuk kedokteran padahal dia menginginkan perminyakan. katanya itu lebih baik. tapi, lebih baik mana? kekaguman orang lain atau kebahagian anak?

dan yang masih saya sering dengar adalah disaat orang tua berharap anaknya mandiri, namun iya bahkan tidak mengenalkan tanggung jawab secara praktek? orang tua sekarang lebih suka ceramah dan mengomel dan itu saya anggap 'pemberian teori'. padahal selama 12 tahun kita diajarkan secara teori tentang tenggang rasa, toleransi, tanggung jawab dan lain-lain. apakah harus dirumah juga diajarkan teori? alhasil anak-anak juga pandai berteori. dibuktikan dengan seringnya mendumel dan pandai mencari alasan. atau menangis dipojokan.

saya mungkin belum tahu, bahkan belum kepikiran, tentang mendidik anak yang baik. tapi mengapa banyak orang tua yang ingin anak nya aktif tapi abis sekolah harus les sana sini? mengapa banyak orang tua yang mau anaknya bisa masak tapi pegang pisau atau dekat kompor pun tak boleh? mengapa banyak orang tua berharap anaknya dewasa disaat ketegasan aja ga pernah ada? bagaimana berharap anaknya jadi pemimpin hebat disaat mengambil keputusan saja masih plin-plan?

padahal semua berawal dari orang tua. semua berawal dari keluarga.

Monday, August 5, 2013

Saya Tidak keren

saya tidak banyak mengenal sosok. saya bukan orang yang betah membaca buku biografi, bukan orang yang mengenal banyak orang. bukan orang yang gemar mencari tahu tentang kehidupan orang lain. walau kadang saya dibilang "rumpi", jujur itu hanya untuk mencairkan susasana. yang saya pelajari, rumpi merupkan sarana yang baik untuk bersosialisasi.
tapi sekarang saya ingin mencoba beberapa sosok lelaki yang bias di bilang keren.
karena saya kurang membaca dan mengenal, maka saya berusaha mengamati. dari keseharian, buku yang saya baca, ataupun cerita fiktif di berbagai media. sehingga saya menyimpulkan lelaki keren itu dibagi menjadi 3. keren karena berprestasi, keren karena multi talenta, keren karena mendobrak peraturan.
orang yang keren karena berprestasi biasanya pintar. dia biasa didekati dan disukai wanita. biasanya tidak terlalu peduli sama penampilan. lelaki keren ini lebih banyak di jadikan suami dari pada pacar. maka dari itu, biasanya lelaki keren satu ini mantannya dikit. tapi tetap saja, dia beprestasi dan setiap dia maju kedepan dan mengambil piala akan ada beberapa orang yang bilang "keren yah?".
yang kedua keren karena multi talenta. tipe ini keren karena biasanya otak kanan dan kiri nya jalan. berparas menarik. bias melakukan lebih dari satu hal. setiap dia melakukan sesuatu orang akan bilang "wah kereen" dan begitu pun melakukan hal lain. sampai pada akhirnya akan ada ucapan "keren ya dia? bias apa aja."
terakhir adalah orang keren karena ia merupakan pemberontak. biasanya ia digambarkan sebagai sosok yang agak berantakan tapi tetap terlihat macho. ia terlihat keren sama cewek-cewek karena ia mempunyai cara tersendiri untuk hidup. otomatis dia harus ganteng pula baru di bilang keren. biasanya dia lebih mengunggulkan otot dari pada otak. dan cowok seperti ini lebih banyak di jadikan pacar dari pada suami. sehingga para temen pacarnya akan bilang "cowok lu keren ya? macho."

bagaimana dengan saya? sekalian curhat, saya tidak masuk ke dalam ketiganya. saya tidak merasa keren karena saya tidak merasa pintar, multi talenta, ataupun pemberontak. saya lebih seperti orang yang tidak terlihat. saya terlihat disaat saya membuat keributan. saya lebih banyak menghancurkan dari pada menciptakan. seperti bebrapa hari ini, motor saya sudah mengalami keanehan karena dua hal. yang pertama entah mengapa terdapat bunyi 'nyerinyit' dan barusan saya mendapatkan kecelakan karena menabrak bagian belakang motor orang. alhasil, entah motor saya keselip sesuatu atau ada yang longgar, motor saya mengeluarkan suara menyeramkan. sampai saat ini orang tua saya belum tahu. mungkin besok akan saya kasih tahu. tapi ini mebuat saya semakin sadar, jadi apa saya besar nanti kalau kerjaan saya hanya merusak?

Friday, July 26, 2013

Mencari Saya

"kamu teh kenapa sih? selalu merasa ga bisa apa-apa. padahal bisa banget. tinggal dipupuk dan di seriusin"
 di atas adalah kata-kata seorang Rifa yang sudah mengenal ku semenjak SMP. menjadi sahabat ku semenjak itu. kami taadi sempat membahas tentang betapa mindernya saya sampai keluar kata-kata itu dari rifa. 

 saya jadi teringat hari terakhir saya menjadi kelas 5 SD dulu. ada seorang guru, pak Tata namanya, yang menjadi wali kelas kami waktu itu. di hari terakhir tersebut di mengevaluasi kinerja setiap anak-anak. memberi komentar dan arahan. ketika dia menyebut nama saya, saya sedikit gugup. dia berkata "Reza itu pintar, tapi kurang menggali" hampir sama seperti apa yang Rifa katakan. 

 ya, mungkin saya kurang menggali, memupuki, mengurusi, menyeriusi suautu. saya terlalu banyak berleha-leha, minder, dan malu. dan yang lebih parah, saya masih terlalu kaku dan tunduk terhadap apa yang orang katakan. kalau kata devina "lu terlalu lemah."

 tahun ini umur saya berkepala dua. saya tidak mau begitu saja melewatkan masa muda saya dengan sia-sia. kalau kata ka audrey "mumpung masih muda." masih banyak bakat yang harus saya kembangkan.

 kalau dulu saya membuat post tentang betapa saya yang tidak memiliki bakat, sekarang saya sadar saya salah. saya memiliki banyak bakat, setidaknya hal yang saya suka. saya senang menulis, saya senang berakting (drama), saya senang menari, saya senang berlari, saya senang bernyanyi, saya senang bermain gitar. ya, walau bernyanyi dan bermain gitar saya tak pernah di puji, setidaknya saya senang saat bernyanyi dan bermain gitar.

 tapi mengapa? saya hanya kurang mencoba. saya takut dihindari dari orang-orang sekitar. tapi sekarang, siapa peduli? mulai dari sekarang rasanya saya ingin melakukan hal-hal yang saya suka. saya ingin mencoba menjadi diri saya, atau mencari siapa saya sebenarnya. yang paling penting adalah menjadi apa saya nantinya? 

 butuh usaha keras dan komitmen di tahun ini, saya tahu itu. tapi mungkin ini saatnya saya bersikap dewasa dan mengambil segala kosekuensi nya. silahkan jika anda ingin mengkritik atau menjelekan saya. saya tidak peduli lagi.

 semoga saya bisa berkomitmen untuk mencari diri saya. semoga ini bisa membawa saya menjadi apa yang sebenarnya saya inginkan. aktor kah? penari kah? penulis kah? atau apapun itu. Bismillah.

Tuesday, April 23, 2013

. . . . . . .

saya seringkali minder. sangat sering. mungkin ini salah satu alasan kenapa saya belum menemukan bakat saya. saya terlalu minder untuk belajar. mungkin ini juga dikarenakan saya yang tertutup dan sulit membuka batasan kepada orang lain, beberapa waktu yang lalu. saya biasanya malas mengkritik dan memberi saran. saya seakan tidak peduli dengan keadaan. sampai saya saat, sebenarnya saya bukan tidak peduli atau minder, saya hanya sedang mencari role model saya.

kehidupan saya sebelumnya membuat saya bingung menemukan sosok yang tepat untuk dijadikan role model. mungkin karena saya terlalu banyak berfikir dan mencari. sampai-sampai saya lupa bahwa saya harus menjadi diri saya sendiri. namun lebih dari itu saya agak kecewa dengan beberapa role model disekitar saya.

beberapa individu yang seharusnya menjadi role model belum cukup baik menjadi seharusnya mereka. saya sedikit kecewa. bagaimana indonesia bisa maju jika role modelnya yang seharusnya disiplin dan semacamnya malah mengabaikan tugas mereka. mereka hanya menyandang gelar dan menggenggam hak di tangan mereka. mungkin sedikit tanggung jawab. dan itu membuat saya muak. saya sadar itu yang membuat bawahan berkata "ah si bos ajah begitu." semoga anda mengerti apa yang saya tulis.

sampai tadi saat saya bertemu dengan atasan salah satu desa dan mencoba observasi untuk tugas kelas, mereka tak menunjukan selayaknya sebagai seorang pemimpin masyarakat. mungkin bisa dimaklumi jika cara berbicara mereka sedikit menyeleweng dari topik. tapi yang saya tidak suka adalah disaat mereka diwawancarai oleh kita (generasi muda) mereka merokok seenaknya. saya tak benci dengan seorang perokok, banyak sahabat saya merokok, tapi saya sangat tidak suka pemimpin yang tak bisa menjadi contoh yang baik.

ah, saya mulai kembali kesal dan malah menghancurkan tulisan saya.

Friday, April 19, 2013

Waktunya Tiba

saya selalu dianggap seseorang yang cuek dan tak peduli dengan keadaan sekitar. tapi itu dulu, saya rasa. dulu saya hanya bocah rumahan yang tak memiliki kulit belang di punggung kaki. saya tak sering bermain keluar dan terpaku pada layar kaca atau papan monopoli. atau mungkin saya lebih seperti orang yang menutup diri.

tapi semakin tinggi angka di punggung saya, semakin banyak orang yang disapa, semakin banyak pula pengalaman saya. saya adalah manusia seperti yang lainnya, dimana kita adalah mahluk sosial. kadang memang kita memerlukan waktu untuk sendiri, human nature. tapi tak selamanya kita harus sendiri, tak boleh.

saya semakin terbuka, walau sedikit perubahannya setidaknya saya berubah ke arah yang lebih baik. bukan berarti saya orang yang senang curhat ke semua orang dan mempublikasikan rahasia semua mantan saya. saya hanya sedang mencoba berbagi, seperti yang sedang saya lakukan sekarang. tapi apa ini cukup?

kemarin saya berdiskusi dengan rifa. kita adalah orang yang senang bergaul tetapi kita memiliki batasan. seperti ada saja penghalang untuk berbaur dalam batasan-batasan tertentu. kita sadar kita bukan orang yang mudah menerima beberapa hal dan ini membuat saya sadar. bagimana kita bisa diterima bila kita sendiri tidak sedang menerima?

seperti pertanyaan-pertanyaan lainnya. bagaimana kita tidak dilupakan saat kita sendiri melupakan? baggaimana kita dimengerti jika tak mau mengerti? dan kenapa kita harus selalu menggunakan sudut pandang kita sendiri sebagai pelaku utama hidup kita? ya, human nature. 

sampai kapan kita bergantung dengan human nature? semua pemberontakan dilakukan untuk memperbaiki keadaan atau sistem dan didukung dengan human natura. tapi mengapa kita tak mendemo diri kita sendiri untuk menjadi lebih baik? menurut saya, ini saatnya untuk bercermin dan melihat apakah kita sudah bisa menerima sebelum kita diterima?

Wednesday, April 10, 2013

BIngung Sendiri

saya adalah orang yang senang berjalan. saya ingin membudayakan berjalan kaki. saya pula senang berjalan dengan cepat. entah mengapa itu hadir dengan alaminya. sampai-sampai teman saya tidak jarang menegur saya untuk memperlambat kecepatan jalan saya. mungkin hanya rifa, seorang yang saya kenal, berjalan dengan cepat bahkan melebihi saya. kita senang berjalan, dan dengan kecepatan penuh. entah mengapa.

lebih lagi saya senang berjalan di depan. entah mengapa saya agak kmerasa kagok jika berjalan di belakang seseorang. saya tidak suka menahan langkah saya. terasa pegal di lutut. tapi sepertinya saya akhir-akhir ini sedang mencoba memperlambat jalan saya dan berbaur dengan gerombolan.

oh ya, banyak yang bilang juga jalan di depan itu tipe orang-orang memimpin. tapi sepertinya saya bukan atau belum sampai ketahap seperti itu. saya belum siap memimpin. entah mengapa saya belum menemukan kesenangan memimpin. saya lebih suka berbaur dan menjajarkan posisi.

mungkin dikarenakan saya belum menemukan sosok untuk dijadikan contoh. mungkin saya belum banyak membaca dan memperhatikan sosok-sosok pemimpin. karena pemimpin-pemimpin yang diberitakan atau yang berada disekitar saya tidak memuaskan saya. mereka pemimpin yang hanya memimpin dengan standard yang biasa-biasa saja atau mungkin beberapanya saya anggap buruk. saya lebih memilih diri saya sendiri, tak ingin menjadi pemimpin sebelum saya tahu benar apa yang akan saya lakukan.

pemimpin-pemimpin yang saya temui lebih kearah beberapa tipe. seperti mereka yang jago berbicara dan berdiplomasi, memiotivasi dan sebagainya tapi jarang melihat keadaan dibawah dan akhirnya hanya memaksakan kehendak sendiri. andai saja mereka mau melihat keadaan yang terjadi dan ikut merasakan pekerjaan bawahan walau sebentar, mungkin mereka akan menjadi pemimpin yang hebat nantinya.

atau mereka yang pandai berbiacara namun tak pandai bekerja sama sekali. saya agak muak dengan mereka. mereka seperti anti aturan. sebagai contoh mereka berkoar-koar untuk datang tepat waktu disaat mereka sendiri datang terlambat. membuat kesal dan lebih baik tidak usah dibicarakan.

dan terakhir pemimpin yang pasrah, seperti saya mungkin. pemimpin yang kadang memilliki ide yang bagus, memiliki kinerja dan etos tinggi bagus namun mereka tak bisa berkomunikasi dengan baik. alhasil mereka lebih banyak diam dan pasrah akan keadaan. ini yang membuat saya sedih dengan keadaan saya sendiri dan orang-orang seperti saya. selalu terhalang komunikasi. kasian. bahkan mungkin mereka lebih baik menjadi pekerja sampai mereka sanggup berbicara dan didengar.

inilah yang membuat saya penasaran dengan buku yang berjudul leadership ala jokowi. semoga bukunya tidak mengecawakan dan memberi harapan lebih. #loh

lihat saja nanti...

Tuesday, April 9, 2013

Publik Figur Kok Kabur?

sepertinya akhir-akhir ini saya muak dengan layar kaca. terutama mereka yang berada didalamnya. tak semua, tetapi tetap saja saya muak. saya lebih suka menonton kartun atau semacamnya dibandingkan harus menonton mereka yang tak pernah diketahui baik buruknya. karena buruk nya mereka telihat baik dan sebaliknya. sama halnya dengan saya bosan dengan media. mereka,beberapa mungkin, seakan memutar balikan fakta. membuat kebenaran tak terungkap dan kejahatan terus tertutup. semua terus kabur.
dilain kisah, saya kesal dengan mereka yang berkoar-koar memperbaiki bangsa dan ceramah memberi motivasi seenaknya seakan hidup itu mudah hanya di layar kaca. sebelumnya saya biasa saja. toh baik juga memberikan orang lain motivasi atau membuat acara-acara yang menunjang potensi. tapi sepertinya dibalik itu ada kepentingan pribadi atau kelompok.
ya mungkin ini hanya persepsi saya, tapi saya merasa kesal dan mungkin membuat tulisan saya berantakan. mereka mengaku dan berkoar demi kemajuan negara. memberi motivasi dan mendidik di layar kaca. mereka seakan mengaku merekalah yang paling mencintai Indonesia. tapi jika ditanya untuk mengisi acara langsung untuk pendidikan atau mendidik kita-kita generasi muda tidak sedikit dari mereka yang susah untuk diperjuangkan. mereka terlalu mahal dengan nama mereka. mungkin mereka tersialukan dengan nama mereka sendiri sehingga mereka lupa akan idealisme mereka sendiri. mereka menjadi terlena. kabur dari tujuan dan kata-kata mereka dilayar kaca.

jika niat mereka murni membangun bangsa, kenapa sulit untuk menjadi pendidik dengan durasi hanya 90 menit? pahlawan saja rela berperang bertahun-tahun bahkan mati di medan perang dengan jiwa mereka yang murni membela negara.

Syukurku Membawa Makmur

saya sering berfikir, sangat sering, tentang bakat yang saya miliki. olahraga? sepertinya sangat bukan bidang saya. saya hanya menyukainya atau lebih tepatnya menontonnya. kesenian? saya termasuk sulit belajar seni. mungkin saya agak kreatif. agak ya? tapi sepertinya tetap saja saya sulit mempelajari kesenian. sampai menulis sepertinya saya hanya bisa, bukan expert. dan saya berfikir apa saya memang tak memiliki bakat? selain bakat berbadan besar tentunya. haha..

tapi saya tak lantas menyerah. ya, kadang saya merasa minder dan malu karena saya tak punya apa-apa untuk di tonjolkan. bahkan di depan umum atau didepan teman-teman pun saya termasuk sulit berbicara, bercerita, atau berkomunikasi dengan baik. tapi ya tadi, saya tak lantas menyerah.

saya masih beryukur saya memiliki tenaga yang cukup dengan indra yang lengkap. saya bersyukur saya masih bisa melakukan segalanya. karena saya rasa ketidak milikin saya akan bakat adalah anugrah bagi saya. saya jadi sadar bahwa saya tercipta bukan untuk berleha dan berpuas dengan bakat saya. saya di lahirkan dengan perjuangan oleh ibu saya, dibesarkan dengan susah payah oleh orang tua saya, dan pada akhirnya saya sendiri harus berjuang dan bersusah payah untuk menjadi besar nantinya.

ketidak milikan saya akan bakat membuat saya sadar. saya adalah orang yang harus selalu berusaha. ya, kadang memang saya merasa lelah. tapi toh selalu ada malam yang menemani istirahat saya. selalu ada pundak kedua orang tua saya untuk menyimpan resah. masih ada rifa dan sahabat-sahabat saya untuk sekedar merelekskan rongga mulut saya dengan tawa. terlebih saya memiliki Allah yang selalu tahu kondisi saya. saya memiliki segalanya tanpa saya sadar.

karena siapa bilang tanpa bakat orang ga bisa sukses? banyak kok yang sukses tanpa bakat. tapi sedikit yang sukses tanpa usaha. jika saya boleh jujur kadang saya lebih suka orang lain memandang saya bukan apa-apa. seperti membuat kejutan dengan cara saya menjadi siapa-siapa dikedepannya. karena toh kita tak boleh menilai buku hanya dari sampulnya bukan?

dengan rasa syukur ini lah saya melangkah, tersenyum, dan ikhlas. saya masih punya hidup untuk di optimalkan. saya masih punya lingkungan yang baik dan saya masih punya Allah. langkah saya mungkin tak sebesar langkah kalian, atau mungkin bisa dibilang saya sedang merayap sekarang. tapi inilah yang akan membentuk kuat otot-otot kehidupan saya yang akan berguna di masa mendatang.

makanya, yuk bersyukur! :)

Sampai Kapan Saya Bertanya?


Jadi orang indonesia itu unik dan ga susah, menurut pemikiran saya. Tadi sore (selasa 9/4) saya pergi ke salah satu pedesaan dekat universitas saya di cikarang. Dengan niat untuk mencari keluarga kurang mampu dalam segihal pendidikan. Kami akan mencoba meringankan beban mereka sedikit dengan memberikan apa yang anak mereka inginkan seperti halnya baju seragam, buku, atau lainnya. Acara kami berjudul Grand Of Hopes dan saya terpilih mengemban tanggung jawab sebagai dokumentasi.
Saat kami sedang meninjau, tenyata esok hari akan diadakan acara pernikahan bagi anak salah satu penduduk disana. Anak bontot (anak terakhir) katanya. Dan yang sedang berduduk-duduk dekat tenda itu adalah ibu mempelai dengan cucunya. Saya langsung berfikir, betapa mudah menjadi penduduk indonesia? Penduduk indonesia asli. Untuk mengadakan acara resepsi tinggal sebar undangan yang tak usah terlalu bagus dan mahal tapi menarik, pasang tenda sederhana depan rumah, siapakan makanan seadanya dan jadilah acara resepsi nikahan anak anda.
Semua orang bahagia. Tak perlu pakai wedding organizer atau semacamnya, toh para undangan akan tetap bahagia. Apalagi jika makanan asli indonesia yang lezat-lezat dihidangkan. Begitu juga dengan keramahan orang indonesia. Kita tahu jika ada acara pernikahan, kita tinggal pake batik dan salam-salaman sebelum mengambil hidangan. Walau kita tidak mengenal pengantin ataupun keluarganya. jarang atau mungkin tidak ada yang mengusir. Orang indonesia itu baik-baik.
Tapi semua berubah setelah negara api menyerang. #loh. Negara api yang dimaksudkan saya adalah globalisasi. Sekarang tdak sedikit orang indonesia yang gila harta dan jabatan. Kata toleransi, gotong royong, ramah-tamah sudah minim dijumpai. Terutama di kota-kota besar. Sungguh disayangkan, banyak perumahan-perumahan yang cukup besar tapi tak berpenghuni. Maksud daya disana jarang ada interaksi. Apa bedanya perumahan tersebut dengan kuburan? Tak saling mengenal dengan tetangga dan tak ada interaksi satu sama lain. Mungkin ada, namun terlihat minim.
Bagi saya mereka warga negara indonesia, namun telah meninggalkan keaslian mereka. Dari dulu indonesia sudah dikenal dengan negara yang berbudaya. Dari majalah natgeo yang saya baca (edisi bulan mei 2013), banyak negara-negara asing yang datang ke indonesia karena ketenaran budaya indonesia terutama budaya jawa, dahulu. Pada saat nenek sayapun masih direncanakan untuk hidup sepertinya. Namun sekarang tak seperti dulu. ya semua memang berubah, tapi mengapa mengalami penurunan?
Globalisasi? Modernisasi? Atau kata apalagi yang patut digunakan sebagai kambing hitam? Menurut saya, kita sebagai warga negara indonesia asli yang salah. Kita terlalu terlena dengan kesempatan-kesempatan yang ada. Kita mencoba mengenal negara-negara asing, negara-negara maju, dan mencoba mengadaptasikan gaya mereka. Namun menurut saya itu tak berhasil membuat kita tetap menjadi warga negara indonesia asli. Kita hanya imitasi mereka yang terlalu terlena.
Kita melupakan satu hal, globalisasi disini dimaksudkan untuk memajukan negara kita sendiri. seharusnya kita membandingkan bukan mengimitasikan. Seharusnya kita semakin sadar dan berusaha bersaing dengan negara luar yang maju dengan cara kita sendiri. selama kita menjadi diri kita sendiri, dalam hal ini menjadi warga negara indonesia asli, saya yakin kita yang nantinya menjadi pusat. Dalam segala bidang. Mungkin batik menjadi fashion yang sangat dikagumi di dunia. Mungkin tempat wisata kita menjadi yang terbaik dan di inginkan. Dan masih banyak kemungkinan lainnya selama kita tak melupakan jati diri kita dan menjaganya. dan bukan pula hanya mengkritik dan berbuat apa-apa, seperti saya.
Bukannya terlalu sibuk menghabiskan harta untuk menghidupi negara lain. Toh negara sendiri ajah masih bobrok kok malah hura-hura dinegara lain. Sampai kapan? sampai kapan apatis? sampai kapan berkutub barat? Sampai kapan hanya mengkritik? Sampai kapan hanya berdemo? Sampai kapan mengabaikan produk dalam negeri? Katanya cinta indonesia, tapi kok malah ga perhatian?
Ini juga merupakan tamparan untuk diri saya sendiri. sampai kapan saya hanya mencintai indonesia tanpa bertindak apa-apa? 

Sunday, April 7, 2013

Saya Untuk Hari Esok

malam senin ini masih ramai. sama seperti bulan lalu sebelum liburan semester kemarin. masih banyak teman-teman setia saya menamni disini, walau mereka mungkin hanya duduk dan tiduran saja, tapi kami tetap berbagi. dari makanan hingga tawa.

tak terasa liburan tiga minggu terlewat begitu saja. kebebasan seakan lepas. akan ada beban baru yang harus ditanggung, atau lebih tepatnya akan banyak tangung jawab baru yang harus dipikul. saya sering bilang, hal yang bagus takan datang dengan mudah. harus banyak usaha dan pengorbanan. begitupula hidup saya seperti ini.

saya sedang berusaha dan berkorban. berusaha dan berkorban untuk masa depan saya. dengan harapan masa depan yang baik tentunya. saya pula yakin tidak ada hal yang sia-sia. saya selalu yakin apa yang kita lakukan detik ini akan berpengaruh untuk dikedepannya. entah itu detik selanjutnya atau mungkin kehidupan selanjutnya. kita mungkin menjadi sejarah atas apa yang kita lakukan, atau kita tak menjadi siapa-siapa. tergantung kita, dan apa tindakan kita. saya rasa semua orang sudah tahu akan hal itu.

saya merasa galau. saya terlalu berfikir keras atas apa yang akan saya lakukan kedepan. saya sudah memasuki semester tiga dan masih belum merasa sebagai anak kuliah berjurusan hubungan internasional. saya masih senang menghitung dan matematika. seperti kemarin saya merasa senang saat mengajarkan beberapa soal kepada adik kelas saya. saya lega saya masih mengingat beberapa teori di dunia angka itu.

tapi saya tak pernah menyesal dengan keputusan saya. saya selalu bersyukur karena selain ilmu yang saya dapat, saya banyak mendapat pengalaman bau dan terutama sahabat-sahabat baru. saya bahagia dapat bertemu dengan mereka. setidaknya jikapun nantinya saya tidak menjadi diplomat, saya tetap bersyukur saya telah bertemu dengan orang-orang hebat ini. saya bersyukur di hari ini, dan dengan setia menunggu hari esok.

selamat datang semester 3.

Friday, April 5, 2013

Jodoh Takan Kemana

saya selalu percaya dengan pepatah 'jodoh tak akan kemana'. jodoh itu sudah ditakdirkan bukan? menemani rezeki dan kematian. tapi saya juga percaya, jodoh bukan hanya berkaitan dengan perasaan cinta atau pasang-pasangan yang sering kali ditfsirkan orang-orang. menurut saya, kita berjodoh dengan beberapa hal. pasangan, handphone, bahkan sampai hewan peliharaan.

pernah terjadi di rumah saya. ibu saya sangat menyukai kucing. dulu kami haya mmiliki tiga kucing yang bernama cacay (induk, betina), jojon (anak, jantan), dan jejen (anak, betina). mereka juga kami dapatkan dari pemberian teman kakak saya yang sudah memiliki jumlah kucing yang sangat banyak. merekabingung dengan kelahiran anak kucing lain da akhirnya hak asuh diserahkan kepada kami.

suatu saat datang mojo jojo, kucing putih persia biasa dipanggil mojo, dengan niatan akan dikawinkan dengan cacay (kucng keturuna persia dan domstik). hasil yang diharapka akan memprbaiki keturunan cacay dan mendapatkan anak-anak kucing luycu lainnya. namun semua rencana gagal, tapa diketauhi pihak wanita (keluarga kami) ternyata mojo suda di kebiri. cacay pupus cinta dan kabur. kami kehilagan induk kucing tersayang. namun cerita tak berhenti.

karena tak mungkin lagi untuk dikawinkan, mojo pun dipulagkan. ibu saya menagis. dia sudah terlanjur sayang dengan mojo. bahkan bisa dibilang tak mau kehilagan mojo. seriusan, ibu saya terus-terusan menangis saat itu. dia berdoa "kalau memang mojo jodoh sama bunda, pasti mojo kesini lagi ya.' sebelum mojo dipulagkan.

seminggu kemudian, si pemilik yang notabene adalah tema kakak saya yang lain sedang membutuhkan uang. dengan ringan hati (menurut saya), dia mejual mojo dengan harga 1 juta. lagsung saja ibu saya mmbeli nya dan mojo pun jadi bagian dari keluarga besar kami. saya simpulkan, ibu saya dan mojo memang berjodoh.

saya juga pernah mengalaminya. saat saya tes snmptn tauhn 2012 lalu saya berdoa, "ya Allah, jika memang saya berjodoh dengan matematika maka luluskan lah saya. tapi jika saya berjodoh engan hubungan internasional maka gagalkan lah saya." dan saya pun tidak lulus. mungin memang saya yang kurang belajar. tapi saya tarik benang merah dari rentetan peristiwa. saya mendapat nlai 100 di ujian PKn saya di bab Hubungan Internasional. saya sering lewat tugu jababeka di tol dan berkata "suatu saat kuliah disitu ah". lalu saya pernah ikut try out yang di adakan oleh unpad kalau tidak salah dengan jurusan yang dicoba Hubungan Intrnasional, dan saya mndapat nilai terbaik ke-2 kalau tidak salah. di psikotes saya yang diadakan oleh SMA saya masa itu menyebutkan Hubungan Internasional di urutan nomor 1 sebagai pilihan saya mendatang. saya menyimpulkan, saya dan hubungan intrnasional memang berjodoh. walau saya lebih menyukai matematika, tapi tak semua kisah berakhir bahagia. namun semua kisah diberikan hasil yang terbaik.

sama seperti malam ini dan malam-mala sebelumnya, saya masih percaya jodoh tak akan kemana. seperti itu pula saya percaya degan Rifa. ia tak akan kemana, ia akan tetap menjadi sahabat terbaik saya. jadi isteri ataupun tidak nantinya, semua merupakan pilihan terbaik dari Allah dan kami tetap berjodoh. itu sudah cukup bagi saya. karena kadang yang terbaik bukan apa yang kita harapkan. Allah selalu memberikan hasil yang terbaik, selama kita berusaha degan kekuatan terbaik kita. seperti saya yang menyayangi dia sebagai sebaik-baiknya sahabat da jodoh saya. terimakasih atas 14 bulan yang berlalu, dan kurang lebih 6 tahun kebelakang ini. memberi saya banyak inspirasi dan pengalaman untuk menjadi yang terbaik. untuk menemukan jodoh saya.

Thursday, April 4, 2013

Aku Kembali Merindu

besok malam saya sudah harus kembali ke cikarang. tempat dimana gue belajar dan memulai hidup baru. semester lain harus di tempuh. minanggalkan kenangan yang pernah di tanam di kota hujan yang sangat saya sayangi ini. kota Bogor.

sekilas saya membaca post-post lama saya. saya membaca tentang alegria dasn taruna. saya merindukannya. saya merindukan masa-masa SMA saya yang tak terisi banyak, tapi cukup penuh untuk di kenang.

saya bertemu orang-orang terbaik di Taruna. sahabat-sahabat yang super baik da relaberkorban. kita tak selalu akur bahkan saling membenci kadang, tapi jauh dari itu kita saling menyayangi. kita saling merindu di hari ini. kita sudah saling berpisah. beberapa di jawa barat, beberapa lain di jawa lain, dan lainnya di luar pulau. kita saling menyayangi.

aku merindu masa-masa itu. dimana kita bisa tertawa lepas. aku rindu dimana beban tak terasa beban bersama mereka. dan disaat seberapa besarpun beban yang sedang kami tanggung, kami tetap tertawa. kami tetap bahagia, karena sau pasti. kami masih tahu kalau kami masih saling memiliki.

selain itu ada alegria. groupo yang saya cintai. tapi saya sadar tidak semua yang kita cintai harus diperjuangkan. aku merindu saat-saat di taman. aku tak banyak aktif, tapi aku merasa berada di rumahku yang lain. aku senang engan suasana yang penuh canda dan tawa. walau itu tak bertahan seberapa lama. aku masih menyayangi mereka, didalam hatiku. setidaknya it yang ku tahu. karena secara sadar aku merindukan masa-masa itu.

tapi dunia terus berputar. tak akan ada yang terus sama. semua berubah. aku harus menatap masa depan sambil memeluk erat masalalu. aku merindukan mereka, merindukan masa-masa itu.

Tuesday, April 2, 2013

Semakin Buram

akhir-akhir ini saya semakin bingung dengan problema yang terjadi. media massa memberitakan ini itu dengan mudahnya, dengan cepatnya. semua pandangan bisa dilihat tapi semakin banyak juga yang buramkan. orang-orang sekarang sudah bersandiwara pol-polan. bukan hanya di panggung teater, tapi juga di panggung kehidupan. seperti lirik lagu lama. dunia ini, panggung sandiwara.

dari eyang sampai cucu, dari demonstran sampai presiden sekarang ga ketawan buruk baiknya. semua blur. kita tidak bisa begitu saja mengambil keputusan yag mana yang baik dan mana yang bena. sempat saya disangka terlalu pro dengan pemerintahan disaat membicarakan politik. sejujurnya saya tidak pernah pro siapa-siapa. saya hanya sedang mencari kebenaran.

pencarian kadang tak berujung baik. saya mala muak dengan keadaan. apa seperti ini negara yang di harapkan para founding faher kita dahulu? setelah membaca buku catatan seorang demonstran yang diambil dari buku harian Soe Hok Gie saya semakin sadar. saya tidak bisa begitu saja terlalu naif dan menganggap seua baik-baik saja. orang baik bisa dibutakan dengan kekuasaan. bangku panas memang merenggut jiwa, hati nurani.

sekarang mungkin banyak golongan muda ataupun tua yang berjuang mengatasnamakan kemanusiaan denga rasa nasionalisme yag tinggi. tapi setelah merka berada diatas apa mereka aka tetap mempertahankan idealisme mereka?

Monday, April 1, 2013

Serba Cepat

akhir-akhir ini saya berfikir. ya saya selalu berfikir. kita sebagi mnusia kini semakin berlomba cepat dengan zaman. atau kurang leih terbawa arus zaman dan meninggalkan kebiasan-kebiasaan lama yang sebenarnya lebih banyak manfaatnya. kita sekarang lebih berfikir praktis. tak peduli bidang apa, semua bisa menjadi kian praktis. dari bikin teh manis sampai jadi penulis sekarang serba cepat.

tadi pagi saya menonoton salah satu acara telvisi yang saya sendiri lupa judulnya tentang ojeg sepeda onthel. keberadaan mereka semakin terancam seperti elang garuda yang saya temui di kebun binatang. mereka menarik perhatian dan memiliki banyak manfaat. tapi ya tadi, mereka (ojeg onthel) tidak menarik untuk dibudidayakan. sebagaian besar orang lebih memilih menaiki ojeg sepeda motor karena tergoong cepat. padahal sepeda onthel lebih murah dan kita bisa mendukung program go green dengan mengurangi emisi gas yang ditimbulkan kendaraan bermotor.

situasi seperti ini juga hadir dalam kehidupan lingkungan rumah saya. dari tukang baso malang sampai tukang sayur keliling menggunakan motor. say tak tahu apa yang ada dipikiran mereka. mungkin meeka hanya berfikir praktis dan kenyamanan. padahal dengan menggunakan motor mereka ikut berpartisipasi dalam meningkatnya global warming dan lumaan sulit memanggil mereka. karena mereka 'cepat'.

jika mereka kembali mmakai grobak dorong, berap banyak manfaat yang dapat mereka raih? kesehatan, pelanggan, uang tambahan dari pada untuk membeli bensin yang kian mahal dan langka. walau memang melelahkan, tetapi tak ada hal yang bagus datang denga udah bukan? harus ada yang dikorbankan. setidaknya dari pada membayar dengan uang untuk seliter bnsin, lebih baik membayar dengan tenaga untuk sehat dimasa mndatang. lebih enak uang bensinya untuk beli baso. ;p

buka bumi yang butuh kita selamatkan, tapi kita butuh bumi untuk menyelamatkan diri kita sendiri.

Rindukan Mentari

sudah dua minggu ini saya 'mendekap' di rumah dengan tembok ungu tercinta. dihiasi dengan beberapa renungan dan pelajaran. namun itu jeleknya saya, saya haya merenung. ditambah beberapa hari ini saya merasa tidak enak badan yang membuat saya sering kali bolak-balik ke tempat tapaan, kamar mandi.

liburan ini saya awali dengan niat menggebu-gebu untuk mengisi hari-hari dengan hal-hal positif dan menghasilkan. namun ternyata niat saya tak sebesar badan saya. ya, badan saya cukup besar. alhasil, liburan dua minggu ini terasa tidak begitu produktif. kerjaan saya disini hanya tidur, makan, jajan, kadang bermain gitar and of course ke kamar mandi.

90% lebih saya berada di dalam rumah. kadang saya merindukan hangatnya sinar mentari. seperti kebanyakan waktu yag saya kerjakan di Cikarang. namun ya sudahlah, saya terlalu malas untuk ke luar rumah. toh tak ada juga yang bisa dikerjakan. kebanyakan haya untuk pergi ke mini market dekat rumah saya.

kembali ke renungan saya, banyak juga hal yang saya pikirkan disini. pertama, ternyata saya belum sepenuhnya move on dari matematika ke politik dan sebagainya. saya rindu berhitung. kadang saya berfikir untuk pindah jurusan atau bahkan pindah universitas. namun saya tak mau mengecewakan orang tua saya yang sudah bersusah payah membiayai saya selama ini hanya untuk mengisi satu tahun 'nganggur' saya.

kedua. saya ternyata pemalas. sangat-sangat pemalas. bakan sampai saking malasnya saya, saya jatuh sakit. dugaan sementara karena biasanya saya beraktivitas sangat keras dan sekarang kerja saya hanya tidur da makan. dugaan kedua karena telat makan. mungkin. tapi saat saya di cikarang, saya sering telat makan hanya karena trlambat masuk kelas.

ketiga. benar dalam satu hubungan yang indah kita hanya mau megabarkan dan berbagi keindahan kesekitar kita. untuk apa melepas rindu dengan berbagi kesedihan bukan? idealnya seperti itu. namun kita juga manusia yang selalu memiliki hal-hal sedih untuk dibagikan. disaat kita mencintai seseorang kita akan berbagi senyum kepada mereka, tapi apa kita tahu bahwa mereka juga mungkin ingin mendengar keluh kesah dan kisah sedih kita. karena kita saling menyayangi. rasa sayang yang bukan satu arah. yah kira-kira beitu.

terakhir. percayalah pada saya, sakit itu tidak enak. saya yang biasanya mengahabiskan makanan sebanyak apapun bahkan menghabiskan makanan teman saya, kini bahkan tak sanggup menghabiskan makanan saya sendiri. syukurilah kesehatan kalian. serta, walau kalian berada ditengah-tengah surgaliburan janganlah kalian lupakan mentari di luar. mereka menunggu untk disapa.

Wednesday, March 20, 2013

Sayapun Bingung

selalu banyak yang ingin saya tulis, diluar ketakutan saya. entah mengapa disaat saya sudah membuka lembaran kertas atau blog ini, saya merasa buntu. saya tidak tahu harus menulis apa?

dimulai dari keinginan saya untuk memiliki keluarga yang 'berbudaya'. yang dimaksud adalah seprti keluarga jawa yang masih berbudaya jawa dan masih menerapkan adat-adatnya. atau budaya apapun itu. disaat saya ditanya, "lu suku apa ja?" gue menjawab sunda. karena sepertinya hanya budaya sunda yang lebih saya mengerti dan saya tahui.

pada kenyataannya sayapun masih bingung dari suku mana darah saya berasal? mungkin saya memiliki banyak darah suku. apa saya harus memilih? saya rasa tidak, atau mungkin iya. sayapun masih bingung.

keluarga saya berada di pulau sumatera dan pulau jawa. mereka masih memegang adat masing-masing dimana saya bingung harus mengadopsi yang mana, dan saya belum mengadopsi budaya apa-apa.

namun saya ingin suatu saat nanti saat saya memiliki keluarga sendiri, saya memiliki keluarga yang 'berbudaya'. atau mungkin saya ingin membuat budaya keluarga saya sendiri. apapun itu, toh saya masih orang indonesia asli. saya bangga,

dan pula saya ingin meningkatkan skill gitar saya. saya merasa bodoh. gitar saya selalu berada didekat saya, dikamar saya. tapi saya jarang sekali menghiraukannya. saya terlalu sibuk sampai tak sempat untuk memegangnya atau lebih tepatnya terlalu malas. saya ingin menggunakan liburan 3 minggu ini untuk mningkatkan skill gitar saya. doakan niat saya terkabul.

entahlah apalagi yang saya ingin saya tulis. kadang tersirat sesuatu di benak tapi sarana sedang tak mendukung dan itu hilang begitu saja. mungkin saya harus lebih sigap.

Merindu

akhir-akhir ini saya merasa jahat dengan orang-orang yang dekat dengan saya. kadang saya merasa candaan saya terlalu berlebihan terhadap mereka. maaf. saya tidak bermaksud menyakiti hati kalian ataupun semacamnya. seratus persen saya hanya bercanda.

kadang kala pula saya merasa jahat terhadap diri saya. saya bukan orang yang mudah menunjukan kepedulian saya terhadap orang-orang disekitar saya. kadang saya takut. ketidak pedulian saya membawa saya kepada kesendirian. saya kadang berfikir mengapa saya sangat sulit mengungkapkan perasaan menjadi tindakan. apa karena faktor biologis? saya rasa tidak. banyak lelaki lain dengan mudahnya mengekspresikan perasaan dan kecintaan mereka.

percayalah, saya sayang dengan kalian. orang tuaku, kakak-adik ku, keluargaku, sahabat-sahabatku, teman-temanku. dan kamu, calon istriku. sering sekali aku merindukan kalian dan berharap kalian berada di sampingku. selalu.

seperti saat ini, saya sedang sendiri dan merindukan kalian.

Sunday, March 10, 2013

Kopiku Dingin

waktu di kelas saya selalu setuju dengan take home exam. tapi sekarang saya malah berkeluh kesah. entah mengapa semua terasa berat. mungkin karena saya terlalu mudah dialihkan perhatiaannya dan tidak begitu mengubris soal-soal tersebut karena deadline yang masih tergolong lama? entahlah.

hari ini saya hanya membereskan rumah yang tak pernah ada habisnya. disaat selelsai menyapu dan mengepel, kucing-kucing kembali mengotorinya. saat mencuci piring, kembali dipakai dan masuk ke bak cuci piring lagi. dan begitu saja seharian ini.

saya melompat dan bernyanyi tak jelas untuk menghilangkan penat. atau mengumpulkan semangat lebih tepatnya. menetralkan rindu yang kian membesar. memakan segala yang memungkinakan. aku terlalu kenyang untuk bekerja. aku membutuhkan motivasi.

alhasil, belum ada kemajuan yang berarti dengan paper-paper saya. sampai teman saya ichwan mengingatkan saya untuk mengrjakan paper-paper tersebut, saya masih teralihkan dengan pertandingan juventus lawan catania malam ini. beruntung juventus dapat menyetak angka di menit terakhir.

kembali saya ke depan laptop saya dan mencoba mengerjakan. saya bosan dan lelah. saya putar channel dan menemukan pertandingan lain. liverpool vs tottenham, saya kembali teralihkan. bahkan sampai sekarang saya malah menulis tak karuan dan melupakan kopi saya yang telah dingin.

kopiku menungguku mengerjakan paper.

Saturday, March 9, 2013

Sekelilingku Ungu

hari ini saya memutuskan untuk pulang ke Bogor. saya mendapat kabar bahwa kamis kemarin keluarga saya pindah rumah (lagi). baru saja tadi siang saya menanyakan kepada ibu saya alamat rumah baru kita. awalnya saya buta, tapi ternyata tak susah dicari.

setelah shalat Dzuhur saya memberekan piring-piring kotor dikamar dormitory saya. entah mengapa siang itu rasa rindu saya akan rumah yang bahkan belum saya lihat bergelora. saya merindukan rumah. saya merindukan keluarga saya tepatnya.

saya berngkat dari jababeka anatara pukul 1 samapai 2 siang. semua tanpa hambatan. saya menemukan angkutan bernomor 42, 17, dan bis agramas dengan mudahnya. bahkan begitu saya naik bus, supirnya menyalakan mesin petanda bus akan berngkat. seakan alam pun merestui dan mendukung kepulangan saya. saya duduk di kursi paling depan sebelah kiri. bersama seorang lelaki tak dikenal yang tidur dengan lelapnya hingga memakan tempat berlebih.

hari itu panas, panas sekali. saya berkeringat deras saat menaiki bus dan merasa pegal karena benar-benar arus berbagi tempat. tapi saya ikhlas karena saya akan pulang.

sesampainya di Bogor seperti biasa saya merasa lega. saya rindu suasana di Bogor. terlebih saya senang karena disambut dengan awan mendung bogor yang menyejukan, yang membuat saya merindu.

setelah saya menunaikan shalat Ashar di Mesjid Raya Bogor yang baru saja di renovasi saya menaiki angkutan 13 dengan berkata "mutiara mang?". setelah memberi kode setuju dari supir angkutan, saya menaiki angkutan tersebut.

saya mengirim pesan pendek ke ibu saya dan Ilman, salah satu sobat karib saya. "gimana tahunya kalau udah deket?" mereka langsung menjawab dengan hasil yang memuaskan. alhasil saya datang ketempat dimana keluarga saya berkumpul. kami berpelukan.

seketika hujan turun. alam memang mendukung saya untuk pulang dengan selamat. sekiranya begitu. alhamdulillah, saya bisa menetralkan rindu saya akan keluarga saya, dan rumah baru saya. hingga kini saya duduk di hadapan netbook saya dan dikelilingi dengan tembok ungu. suasana baru.

Friday, February 22, 2013

Hanya Ingin Menulis

udah lama banget ga nulis, lama banget. saya terlalu takut dan cemburu untuk menulis. saya takut untuk dikritik atau lebih parahnya diperolok. itu membuktikan bahwa saya sempat takut untuk menjadi diri sendiri. saya sering mengatakan pada orang lain "jadilah diri sendiri" tapi nyatanya saya sendiri belum merasa jadi diri sendiri. saya merasa munafik.

saya takut tulisan saya kembali diperolok dengan mereka yang tak mengerti, atau tak mau mengerti. saya sempat cemburu dengan sekeliling saya yang dengan mudahnya membuat tulisan bagus begitu saja. tapi setelah beberapa kali melewati interview, saya kembali sadar. saya senang menulis. tak peduli kata orang, saya akan tetap menulis.

kadang ketakutan saya membawa saya kepada kekosongan. saya sempat tak tahu harus menulis apa?
saya kadang bingung. terlalu banyak yang di hadapi dan kerjakan. Bukan membuat saya senang karena kesibukan, tapi malah membuat saya bingung yang mana yang akan saya kerjakan duluan. saya malah terlelap dan melupakannya.

hasilnya, semua kerjaan saya kerjakan dengan waktu yang berdempetan. itu membuat dampak yang sangat buruk. benar kata guru-guru saya di sekolah, "jangan pernah menunda-nunda pekerjaan."

selain itu membuat saya kewalahan, sekeliling saya terkena dampaknya. saya jarang pulang kerumah karena kehabisan ongkos. bukan sekedar ongkos pulang saja, tapi juga apa yang akan saya kerjakan di bogor. saya gtak mungkin hanya berdiam diri dikamar dan tak melakukan apa-apa, sangat bukan saya. itu malah akan menghabiskan isi dompet saya. saya yakin.

saya sangat merindukan orang tua saya. saya tidak pernah se-homesick sekarang. saya sudah sangat berniat akan pulang ke rumah baru di silent week semester ini. tapi mereka ke pekan baru karena sesuatu yang tak pernah didugakan, tak diinginkan, tak dihindarkan. kami kehilangan seseroang yang sangat kami sayangi.

saya juga sangat merindukan Rifa. dia juga sering mengatakan rindu namun aku tak tahu apa yang harus dilakukan. aku seperti tak punya daya dan lemah. membuat saya kadang berfikir membiarkannya lepas dan mencari seseorang yang lebih baik. yang bisa memenuhi hatinya setiap saat. namun saya terlalu menyayanginya dan tak mau melepaskannya. saya tahu itu akan sangat sulit. saya bimbang jika harus berhadapan dengannya. saya menyayanginya dan itu yang membuat tak tahu harus berbuat apa. saya rindu dengan dia, sangat rindu, saya yakin suatu saat saya dapat bertemu dengannya, menyampaikan sayang ini.

teman-teman saya sering bertanya "kemana aja?" saya hanya menjawab "biasa.". kadang itu membuat saya merasa tak enak. maaf teman. saya tak pernah beraksud sombong, saya hanya tak suka jika hanya berdiam diri.

curhat kali ini entah kenapa sedikit melegakan saya. maaf jika ini mengganggu. saya hanya ingin menulis dan melepas penat.

Thursday, January 10, 2013

Puisi Itu

kemarin malam saya sempat sms-an dengan Rifa. dia bilang ada kata-kata aneh di blognya. tapi entah kenapa yang saya temukan malahan kata-kata yang menyentuh luar biasa disana. kata-kata indah tentang seorang ayah.

saya pernah menggambarkan ayah sebagai seorang malaikat di puisi saya waktu jaman SD. tapi itu sudah lalu sekali waktu saya baru-baru seuka menulis dan belajar berpuisi. ya, sejak kecil saya suka berpuisi. membaca dan menulis, untuk konsumsi sendiri.

kini, setelah beberapa tahun saya mengenal puisi, saya menemukan salah satu puisi yang bejudul 63 karya Rifa Nailufar ini saya begitu tersentuh. saya seperti ikut terbawa oleh kasih sayang yang ia ucapkan, saya menemukan arti sayang di puisi itu.

dan kini, rasa sayang dan keingininan saya untuk membahagiakan orang tua saya bertambah, jauh bertambah. makasih fa.


*jika anda ingin melihat puisinya, bisa dilihat disini

Wednesday, January 9, 2013

Dikatai Labil

kadang saya bingung bagaimana menjalani ini semua. selalu ada ketakutan untuk melakukan sesuatu yang baru, melakukan suatu perubahan. sama seperti sekarang. saya sudah berniat untuk memilih dan kembali mencoba. menentukan jalan saya sendiri, matematika. saya tidak handal, hanya saja saya sangat menyukai pelajaran itu. matematika dan HI itu seperti coklat dan keju. saya suka keduanya, hanya saja saya akan lebih memilih coklat jika bisa memilih. coklat lebih pas di lidah saya dibandingkan keju. sama halnya seperti matematika yang lebih pas di otak saya dari pada teori-teori politik dan sebagainya.

saya memilih untuk kembali mencoba. semakin saya bersemangat semakin saya merasa nyaman disini, atau lebih tepatnya takut meninggalkan situasi seperti ini. jika memang iya saya berjodoh pergi, apa disana akan ada tempat yang layak dan bersahabat seperti disini? apa saya bisa menjadi lebih baik? apa saya bisa membuat mereka bangga? apa saya diam saja disini dan menjalankannya?

guru saya pernah berkata kepada saya "si Reza mah pinter, tapi lagi labil-labilnya."
kata-kata itu seperti tonjokan yang tepat mengenai perut saya. sakit. bukan karena saya di katai anak labil, tapi karena kenyataan bahwa memang benar saya masih labil. saya belum bisa mengambil keputusan. banyak pertimbangan dan akhirnya membenamkan cita-cita saya.

bahkan disaat saya menulis ini pun motivasi saya masih naik turun untuk kembali mencoba. apa bisa saya membuktikan bahwa disana saya bisa lebih baik? selalu pertanyaan itu yang ada di pikiran saya. dan saya sadar, sampai sekarangpun ternyata saya masih labil.

Monday, January 7, 2013

BDG, SBY, atau CKG? Let's See...

"dunia apa yang sebenarnya saya ingini?", pertanyaan kepada diri sendiri yang sampai saat ini belum terjawab oleh diri saya sendiri. 

hingga saat ini, saya tidak tahu apa yang saya ingini, saya cita-citakan, saya bakati, bahkan saya miliki. saya kadang masih merasa hampa dan tidak termotivasi. ya, cita-cita saya membahagiakan orang tua. tapi apakah itu berarti selalu berkata iya kepada mereka dan membuat saya memasuki dunia dimana itu bukanlah dunia saya?

sampai kemarin malam Rifa dan saya berbincang. saya sadar, Allah punya rencananya. rencana khusus. saya sadar, keluahan lah yang membuat saya tidak merasa nyaman. saya selalu mengeluh walau hanya kepada diri saya sendiri dan tidak berbuat apa-apa, selain mengeluh. saya belajar, ya saya belajar sangat keras, tetapi diselingin dengan keluhan. mungkin itu yang menghambat ilmu masuk kedalam otak saya.

saya sadar setelah berbincang, Allah punya rencana dan kita tinggal menjalankan sebaik-baiknya. selebih nya tinggal berserah diri, karena Allah akan memilihkan yang terbaik. sekarang saya akan melakukan yang terbaik, sebaik-baiknya, dan menunggu jawaban Allah apakah saya akan pergi kebandung dan bertemu dengan yang saya impikan? ke surabaya sendiri atau bersama teman terbaik saya untuk menuntut ilmu yang baru? atau diam disini, bersyukur dan terus berusaha menjadi yang terbaik? 

Bismillah...

Liburan Istimewaku


sebenarnya pulang dari gor waktu itu pengen banget langsung nulis disini. hanya saja saya tak punya cukup koneksi internet yang memadai dan alhasil saya simpan dulu di words. berikut tulisan saya.

Malam ini,tertanggal lima januari 2013 saya terduduk ikhlas. Saya bersyukur, penuh syukur. Allah masih memberikan saya liburan yang penuh berkah dan istimewa. Saya bertemu orang-orang baru, atau lebih tepatnya adik-adik baru. Keluarga baru saya. Banyak konflik dan hal lain memang yang mengganggu, tapi justru itulah seninya. Itulah pemanisnya. Sampai-sampai saya tak rela di malam terakhir libur semester saya, saya malah tertidur pulas tanpa menulis disini.

Yang paling istimewa selain bertemu dengan keluarga ku dan gadis strong ku Rifa, saya bertemu dengan orang-orang hebat, adik-adik baruku. Mereka manja, ya sangat manja sekali, tetapi mereka berhasil membuatku bangga hari ini. Sangat bangga. Benar kata a luncur, salah satu senior saya di Taruna, saya malu bertemu dengan pasukan. Kami belum dapat menjadi kakak yang baik tapi malah sudah berani menganggap mereka sebagai keluarga. Tapi kita adalah tim, kita semua telah menjalankan yang terbaik selama kurang dari dua minggu ini.

Terngiang juga kata-kata senior saya yang lain, “kita hebat. Tapi kita tidak tahu kehebatan lawan seperti apa? Dan itulah kelemahan fatal kita.” Yah kira-kira seperti itulah kurang lebih dan saya merasa jatuh dan bodoh. Beliau benar dan saya hanyalah purna muda yang tak tahu apa-apa. Semoga itu bisa menjadi perbaikan untuk tahun depan.

Tapi diluar itu saya merasa bangga, begitu bangga dan masih bangga sampai sekarang. Saya tahu proses bagaimana mereka berjuang hanya untuk mencari orang agar mereka bisa tampil dan menjadi juara tentunya. Disaat mereka merasa kesal karena satu sama lain. Disaat mereka tekapar lemah karena terlalu banyak jalan ditempat bersama saya (maaf ya pasukan hehe..). dan disaat mereka sangat mengesalkan karena susah sekali dikasih tahu, sangat manja. Tapi tetap saja mereka membuat saya bangga tepat di hari setelah saya merasa kecewa. Mereka membuktikan bahwa mereka bisa berbuat lebih dan tidak mengecewakan dan ya, saya tidak kecewa sama sekali.

Seperti kata-kata terakhir yang saya ucapkan kepada pasukan, saya tidak tahu sampai kapan saya bisa melupakan dan berhenti merindukan drap langkah mereka, tawa mereka, bantingan mereka, pinternya mereka di arena perang, suara merka, dan rasa bangga ini. Terimakasih pasukan!

Saya tahu Allah masih menyayangi kami. Dia tidak begitu saja memberikan gelar besar kepada pemuda-pemua hebat dengan waktu singkat. Allah ingin membuat kita tetap hebat, tak larut dalam kesombongan. Seperti yang kita tahu, Allah telah membuat tujuh tingkat surga, tujuh tingkat neraka, tujuh lapis langit, tujuh lapis bumi, tujuh lapis kulit dan tujuh-tujuh lainnya dan untuk menunjukan rasa sayangnya Allah memberikan angka tujuh pada angkatan 25 dua kali berturut-turut. Itu bukan pujian ataupun hinaan, itu rasa syukur karena saya tahu Allah punya rencana khusus untuk Taruna.

Sama seperti ibu, keluarga, dan calon istri saya, Taruna selalu ada dalam doa saya. 

Thursday, January 3, 2013

IPA atau IPS?

ini seperti kembali kemasa-masa SMA dulu kelas 10 disaat sedang galau-galaunya mencari tahu apa yang harus saya pilih, IPA atau IPS?
namun setelah banyak pemikiran, perundingan, dan perdebatan saya terjerumus dengan rumus-rumus fisika dan istilah-istilah kimia yang bahkan hanya saya mengerti untuk beberapa saat.

sekarang disaat saya sudah tak berada di SMA, saya kadang merasa merindukan rumus-rumus, grafik, kurva, dan semacamnya itu. saya rindu menjadi anak IPA. saya sangat merindukan Matematika, sangat rindu.

saya tahu Matematika di perkuliahan mungkin lebih berat dan tak tahu apa saya sanggup menghadapinya? tapi saya masih bercita-cita menjadi anak FMIPA-ITb. saya ingin menjadi ahli matematika, saya ingin menjadi ilmuwan.

kini, Ilman akan mengikuti kembali semacam test untuk masuk perguruan tinggi. saya tahu saya pernah mencobanya dan gagal, tapi kenapa saya harus menyerah?
saya rasa kuliah di President begitu mahal dan saya begitu kasian sama orang tua saya, ya walau dibandung akan sama saja. saya berniat untuk merantau ke tanah jawa yang jauh lebih timur dari pada rumah saya.

namun itu artinya saya harus bekerja lebih keras untuk bertahan 'IPS' demi menunjang nilai saya dan 'IPA' untuk mengejar cita-cita saya. namun walau saya hasilnya di terima disalah satu perguruan tinggi dan kembali memunggungi tittle IPA saya, saya tidak yakin orang tua saya mengizinkan. so, we'll see! Rencana Allah begitu unik dan tak terteduga.

Jangan Hanya Bermain di Kotaku

dari malam tahun baru sebenarnya saya ingin menulis ini. menulis tentang pandangan saya sendiri yang baru saja terbuka tentang kota saya, Bogor. ditambah semenjak kedatangan dua teman saya dari daerah yang sangat berbeda. reza yang katanya lahir dimalang namun karena panggilan tugas ayahnya ia pindah kebontang dan sela yang tinggal dan lombok dan setahu saya pernah ngekos di jogja.

"jadi ga ada yang seru ya di Bogor?" kurang lebih itu yang sela ucapkan disaat kita hanya berkeliling gajelas mencari temat seru di Bogor dikarenakan kita sudah kekenyangan makanan tahun baru di tambah mereka dan Ilman habis menunggu saya selama dua jam melatih formasi untuk pasukan.

ya, di Bogor menurut saya juga tak ada tempat seru untuk bermain. kecuali bagi mereka yang sering menongkrong sampai tengah malam mereka akan menemukan banyak spot di Bogor, pinggiran ataupun tengah kota. bagi mereka yang suka bermain biliard, club, tempat futsal atau sebagainya juga banyak, namun itu bukan permainan saya.

"Bogor menurut saya adalah tempat untuk wisata kuliner, belanja, jalan kaki ataupun lari pagi, dan tidur." - Reza Romano

walau bogor bukan kota budaya, bukan kota kuliner, bukan kota wisata, ataupun bukan kota apapun yang terdengar enak untuk liburan, Bogor merupakan tempat yang enak untuk beberapa aktivitas.

banyak tempat makan di Bogor yang enak. di Taman Kencana, Surya Kencana, Saras, Air Mancur, atau tempat-tempat lain. tapi favorit saya adalah tukang bubur ayam dimanapun itu dan makanan-makanan pinggir jalan. jika anda jalan-jalan di Bogor menggunakan kendaraan, anda akan sering mendapatkan makanan-makanan enak dibeberapa tempat. tapi pintar-pintarlah mencari tempat yang enak. cari referensi dari kerabat atau siapapun. dijamin ganyesel deh.

selain itu, di sepanjang jalan Pajajaran banyak sekali outlet-outlet yang menjual pakaian dan sebagainya. saya dan keluarga sering pergi kesana. selain itu banyak pula mall-mall yang cukup bagus dan menyediakan kebutuhan sandang kalian semua.

pohon di Bogor banyak, setidaknya lebih banyak dari cikarang, terutama di beberapa tempat di pusat kota karena disana ada Kebun Raya Bogor yang sisinya cuman pohon doang. di Kebun Raya Bogor ataupun pinggirannya, sempur, dan tempat-tempat seperti itu adalah tempat yang paling pas jika hanya untuk jalan-jalan mengobrol atau lari pagi. suasananya asik.

suasana di Bogor adem dan bikin mager, jika ga ada kerjaan bogor merupakan tempat yang pas buat istirahat. mungkin itu alasananya mengapa banyak orang-orang bikin vila di puncak. suasananya enak, pas buat tidur.

sekian tentang Bogor ku yang sering saya rindukan. bukan tempat bermainnya, tapi suasananya. 

Resolusi 2013

hampir semua orang di jejaring social, teman ngobrol, bahkan saat saya berada di angkutan umum membicarakan resolusi dan ini pasti terjadi setiap awal tahun. kalo saya boleh jujur dan kalian bisa menjaga rahasia, sebenarnya saya tidak tahu loh arti resolusi itu sendiri apa? saya hanya sering mendengarnya. :|
kalo kata teman akrab saya di TARUNA (paskib SMA saya) pembendaharaan kata saya itu kurang. zzzz...
walaupun bagaimanapun, saya sebagai pemimpin masa depan (eeaa) tidak mau kalah dan ingin membuat resolusi. walau mungkin ini sudah telat karena hari ini sudah masuk hari ketiga tahun 2013, semoga tidak.

setelah berfikir-fikir, mendengarkan, dan menimbang saya punya resolusi, jika ini bisa disebut resolusi, saya akan lebih banyak belajar, membaca, menulis, dan peduli. 
bahkan hari ini saya sudah membeli dua eksemplar koran untuk dibaca, walau sampai saat ini belum.
semoga semangat resolusi ini bisa bertahan.

terakhir, resolusi yang begitu tersirat di pikiran bahkan hati saya. resolusi yang timbul setelah pertengkaran yang berujung pemikiran, saya ingin lebih terbuka. saya ingin berbagi cerita hidup saya, saya ingin mencoba membuat orang mengerti akan diri saya. namun itu gagal, menurut saya.

bahkan di hari yang baru ketiga ini saya sudah merasa gagal. saya sempat cerita kepada teman-teman yang saya percaya dan tahu mereka bersikap netral kemarin, tapi saya merasa begitu bersalah setelahnya. saya begitu tidak enak dengan Rifa sebagai orang yang spesial di hati saya. saya ingin dia yang lebih tahu tentang saya. saya tidak enak dengan mereka yang membuat cerita itu terjadi, saya tidak berniat membicarakan kalian apalagi menjelek-jelekan kalian dan saya merasa bukan saya. 

saya sempat berkirim pesan kepada Rifa bahwa setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk bercerita. mungkin blog ini adalah salah satu alternatif saya untuk memperkenalkan diri saya kepada mereka yang ingin lebih mengenal saya, terutama kamu. :)