sebenarnya pulang dari gor waktu itu pengen banget langsung nulis disini. hanya saja saya tak punya cukup koneksi internet yang memadai dan alhasil saya simpan dulu di words. berikut tulisan saya.
Malam ini,tertanggal lima januari 2013 saya terduduk ikhlas.
Saya bersyukur, penuh syukur. Allah masih memberikan saya liburan yang penuh
berkah dan istimewa. Saya bertemu orang-orang baru, atau lebih tepatnya
adik-adik baru. Keluarga baru saya. Banyak konflik dan hal lain memang yang
mengganggu, tapi justru itulah seninya. Itulah pemanisnya. Sampai-sampai saya
tak rela di malam terakhir libur semester saya, saya malah tertidur pulas tanpa
menulis disini.
Yang paling istimewa selain bertemu dengan keluarga ku dan
gadis strong ku Rifa, saya bertemu
dengan orang-orang hebat, adik-adik baruku. Mereka manja, ya sangat manja
sekali, tetapi mereka berhasil membuatku bangga hari ini. Sangat bangga. Benar
kata a luncur, salah satu senior saya di Taruna, saya malu bertemu dengan
pasukan. Kami belum dapat menjadi kakak yang baik tapi malah sudah berani
menganggap mereka sebagai keluarga. Tapi kita adalah tim, kita semua telah
menjalankan yang terbaik selama kurang dari dua minggu ini.
Terngiang juga kata-kata senior saya yang lain, “kita hebat.
Tapi kita tidak tahu kehebatan lawan seperti apa? Dan itulah kelemahan fatal
kita.” Yah kira-kira seperti itulah kurang lebih dan saya merasa jatuh dan
bodoh. Beliau benar dan saya hanyalah purna muda yang tak tahu apa-apa. Semoga
itu bisa menjadi perbaikan untuk tahun depan.
Tapi diluar itu saya merasa bangga, begitu bangga dan masih
bangga sampai sekarang. Saya tahu proses bagaimana mereka berjuang hanya untuk
mencari orang agar mereka bisa tampil dan menjadi juara tentunya. Disaat mereka merasa kesal karena satu
sama lain. Disaat mereka tekapar lemah karena terlalu banyak jalan ditempat
bersama saya (maaf ya pasukan hehe..). dan disaat mereka sangat mengesalkan
karena susah sekali dikasih tahu, sangat manja. Tapi tetap saja mereka membuat
saya bangga tepat di hari setelah saya merasa kecewa. Mereka membuktikan bahwa
mereka bisa berbuat lebih dan tidak mengecewakan dan ya, saya tidak kecewa sama
sekali.
Seperti kata-kata terakhir yang saya ucapkan kepada pasukan,
saya tidak tahu sampai kapan saya bisa melupakan dan berhenti merindukan drap
langkah mereka, tawa mereka, bantingan mereka, pinternya mereka di arena
perang, suara merka, dan rasa bangga ini. Terimakasih pasukan!
Saya tahu Allah masih menyayangi kami. Dia tidak begitu saja
memberikan gelar besar kepada pemuda-pemua hebat dengan waktu singkat. Allah
ingin membuat kita tetap hebat, tak larut dalam kesombongan. Seperti yang kita
tahu, Allah telah membuat tujuh tingkat surga, tujuh tingkat neraka, tujuh
lapis langit, tujuh lapis bumi, tujuh lapis kulit dan tujuh-tujuh lainnya dan
untuk menunjukan rasa sayangnya Allah memberikan angka tujuh pada angkatan 25
dua kali berturut-turut. Itu bukan pujian ataupun hinaan, itu rasa syukur
karena saya tahu Allah punya rencana khusus untuk Taruna.
Sama seperti ibu, keluarga, dan calon istri saya, Taruna
selalu ada dalam doa saya.
No comments:
Post a Comment