kadang saya bingung bagaimana menjalani ini semua. selalu ada ketakutan untuk melakukan sesuatu yang baru, melakukan suatu perubahan. sama seperti sekarang. saya sudah berniat untuk memilih dan kembali mencoba. menentukan jalan saya sendiri, matematika. saya tidak handal, hanya saja saya sangat menyukai pelajaran itu. matematika dan HI itu seperti coklat dan keju. saya suka keduanya, hanya saja saya akan lebih memilih coklat jika bisa memilih. coklat lebih pas di lidah saya dibandingkan keju. sama halnya seperti matematika yang lebih pas di otak saya dari pada teori-teori politik dan sebagainya.
saya memilih untuk kembali mencoba. semakin saya bersemangat semakin saya merasa nyaman disini, atau lebih tepatnya takut meninggalkan situasi seperti ini. jika memang iya saya berjodoh pergi, apa disana akan ada tempat yang layak dan bersahabat seperti disini? apa saya bisa menjadi lebih baik? apa saya bisa membuat mereka bangga? apa saya diam saja disini dan menjalankannya?
guru saya pernah berkata kepada saya "si Reza mah pinter, tapi lagi labil-labilnya."
kata-kata itu seperti tonjokan yang tepat mengenai perut saya. sakit. bukan karena saya di katai anak labil, tapi karena kenyataan bahwa memang benar saya masih labil. saya belum bisa mengambil keputusan. banyak pertimbangan dan akhirnya membenamkan cita-cita saya.
bahkan disaat saya menulis ini pun motivasi saya masih naik turun untuk kembali mencoba. apa bisa saya membuktikan bahwa disana saya bisa lebih baik? selalu pertanyaan itu yang ada di pikiran saya. dan saya sadar, sampai sekarangpun ternyata saya masih labil.
No comments:
Post a Comment