saya seringkali minder. sangat sering. mungkin ini salah satu alasan kenapa saya belum menemukan bakat saya. saya terlalu minder untuk belajar. mungkin ini juga dikarenakan saya yang tertutup dan sulit membuka batasan kepada orang lain, beberapa waktu yang lalu. saya biasanya malas mengkritik dan memberi saran. saya seakan tidak peduli dengan keadaan. sampai saya saat, sebenarnya saya bukan tidak peduli atau minder, saya hanya sedang mencari role model saya.
kehidupan saya sebelumnya membuat saya bingung menemukan sosok yang tepat untuk dijadikan role model. mungkin karena saya terlalu banyak berfikir dan mencari. sampai-sampai saya lupa bahwa saya harus menjadi diri saya sendiri. namun lebih dari itu saya agak kecewa dengan beberapa role model disekitar saya.
beberapa individu yang seharusnya menjadi role model belum cukup baik menjadi seharusnya mereka. saya sedikit kecewa. bagaimana indonesia bisa maju jika role modelnya yang seharusnya disiplin dan semacamnya malah mengabaikan tugas mereka. mereka hanya menyandang gelar dan menggenggam hak di tangan mereka. mungkin sedikit tanggung jawab. dan itu membuat saya muak. saya sadar itu yang membuat bawahan berkata "ah si bos ajah begitu." semoga anda mengerti apa yang saya tulis.
sampai tadi saat saya bertemu dengan atasan salah satu desa dan mencoba observasi untuk tugas kelas, mereka tak menunjukan selayaknya sebagai seorang pemimpin masyarakat. mungkin bisa dimaklumi jika cara berbicara mereka sedikit menyeleweng dari topik. tapi yang saya tidak suka adalah disaat mereka diwawancarai oleh kita (generasi muda) mereka merokok seenaknya. saya tak benci dengan seorang perokok, banyak sahabat saya merokok, tapi saya sangat tidak suka pemimpin yang tak bisa menjadi contoh yang baik.
ah, saya mulai kembali kesal dan malah menghancurkan tulisan saya.
Tuesday, April 23, 2013
Friday, April 19, 2013
Waktunya Tiba
saya selalu dianggap seseorang yang cuek dan tak peduli dengan keadaan sekitar. tapi itu dulu, saya rasa. dulu saya hanya bocah rumahan yang tak memiliki kulit belang di punggung kaki. saya tak sering bermain keluar dan terpaku pada layar kaca atau papan monopoli. atau mungkin saya lebih seperti orang yang menutup diri.
tapi semakin tinggi angka di punggung saya, semakin banyak orang yang disapa, semakin banyak pula pengalaman saya. saya adalah manusia seperti yang lainnya, dimana kita adalah mahluk sosial. kadang memang kita memerlukan waktu untuk sendiri, human nature. tapi tak selamanya kita harus sendiri, tak boleh.
saya semakin terbuka, walau sedikit perubahannya setidaknya saya berubah ke arah yang lebih baik. bukan berarti saya orang yang senang curhat ke semua orang dan mempublikasikan rahasia semua mantan saya. saya hanya sedang mencoba berbagi, seperti yang sedang saya lakukan sekarang. tapi apa ini cukup?
kemarin saya berdiskusi dengan rifa. kita adalah orang yang senang bergaul tetapi kita memiliki batasan. seperti ada saja penghalang untuk berbaur dalam batasan-batasan tertentu. kita sadar kita bukan orang yang mudah menerima beberapa hal dan ini membuat saya sadar. bagimana kita bisa diterima bila kita sendiri tidak sedang menerima?
seperti pertanyaan-pertanyaan lainnya. bagaimana kita tidak dilupakan saat kita sendiri melupakan? baggaimana kita dimengerti jika tak mau mengerti? dan kenapa kita harus selalu menggunakan sudut pandang kita sendiri sebagai pelaku utama hidup kita? ya, human nature.
sampai kapan kita bergantung dengan human nature? semua pemberontakan dilakukan untuk memperbaiki keadaan atau sistem dan didukung dengan human natura. tapi mengapa kita tak mendemo diri kita sendiri untuk menjadi lebih baik? menurut saya, ini saatnya untuk bercermin dan melihat apakah kita sudah bisa menerima sebelum kita diterima?
tapi semakin tinggi angka di punggung saya, semakin banyak orang yang disapa, semakin banyak pula pengalaman saya. saya adalah manusia seperti yang lainnya, dimana kita adalah mahluk sosial. kadang memang kita memerlukan waktu untuk sendiri, human nature. tapi tak selamanya kita harus sendiri, tak boleh.
saya semakin terbuka, walau sedikit perubahannya setidaknya saya berubah ke arah yang lebih baik. bukan berarti saya orang yang senang curhat ke semua orang dan mempublikasikan rahasia semua mantan saya. saya hanya sedang mencoba berbagi, seperti yang sedang saya lakukan sekarang. tapi apa ini cukup?
kemarin saya berdiskusi dengan rifa. kita adalah orang yang senang bergaul tetapi kita memiliki batasan. seperti ada saja penghalang untuk berbaur dalam batasan-batasan tertentu. kita sadar kita bukan orang yang mudah menerima beberapa hal dan ini membuat saya sadar. bagimana kita bisa diterima bila kita sendiri tidak sedang menerima?
seperti pertanyaan-pertanyaan lainnya. bagaimana kita tidak dilupakan saat kita sendiri melupakan? baggaimana kita dimengerti jika tak mau mengerti? dan kenapa kita harus selalu menggunakan sudut pandang kita sendiri sebagai pelaku utama hidup kita? ya, human nature.
sampai kapan kita bergantung dengan human nature? semua pemberontakan dilakukan untuk memperbaiki keadaan atau sistem dan didukung dengan human natura. tapi mengapa kita tak mendemo diri kita sendiri untuk menjadi lebih baik? menurut saya, ini saatnya untuk bercermin dan melihat apakah kita sudah bisa menerima sebelum kita diterima?
Wednesday, April 10, 2013
BIngung Sendiri
saya adalah orang yang senang berjalan. saya ingin membudayakan berjalan kaki. saya pula senang berjalan dengan cepat. entah mengapa itu hadir dengan alaminya. sampai-sampai teman saya tidak jarang menegur saya untuk memperlambat kecepatan jalan saya. mungkin hanya rifa, seorang yang saya kenal, berjalan dengan cepat bahkan melebihi saya. kita senang berjalan, dan dengan kecepatan penuh. entah mengapa.
lebih lagi saya senang berjalan di depan. entah mengapa saya agak kmerasa kagok jika berjalan di belakang seseorang. saya tidak suka menahan langkah saya. terasa pegal di lutut. tapi sepertinya saya akhir-akhir ini sedang mencoba memperlambat jalan saya dan berbaur dengan gerombolan.
oh ya, banyak yang bilang juga jalan di depan itu tipe orang-orang memimpin. tapi sepertinya saya bukan atau belum sampai ketahap seperti itu. saya belum siap memimpin. entah mengapa saya belum menemukan kesenangan memimpin. saya lebih suka berbaur dan menjajarkan posisi.
mungkin dikarenakan saya belum menemukan sosok untuk dijadikan contoh. mungkin saya belum banyak membaca dan memperhatikan sosok-sosok pemimpin. karena pemimpin-pemimpin yang diberitakan atau yang berada disekitar saya tidak memuaskan saya. mereka pemimpin yang hanya memimpin dengan standard yang biasa-biasa saja atau mungkin beberapanya saya anggap buruk. saya lebih memilih diri saya sendiri, tak ingin menjadi pemimpin sebelum saya tahu benar apa yang akan saya lakukan.
pemimpin-pemimpin yang saya temui lebih kearah beberapa tipe. seperti mereka yang jago berbicara dan berdiplomasi, memiotivasi dan sebagainya tapi jarang melihat keadaan dibawah dan akhirnya hanya memaksakan kehendak sendiri. andai saja mereka mau melihat keadaan yang terjadi dan ikut merasakan pekerjaan bawahan walau sebentar, mungkin mereka akan menjadi pemimpin yang hebat nantinya.
atau mereka yang pandai berbiacara namun tak pandai bekerja sama sekali. saya agak muak dengan mereka. mereka seperti anti aturan. sebagai contoh mereka berkoar-koar untuk datang tepat waktu disaat mereka sendiri datang terlambat. membuat kesal dan lebih baik tidak usah dibicarakan.
dan terakhir pemimpin yang pasrah, seperti saya mungkin. pemimpin yang kadang memilliki ide yang bagus, memiliki kinerja dan etos tinggi bagus namun mereka tak bisa berkomunikasi dengan baik. alhasil mereka lebih banyak diam dan pasrah akan keadaan. ini yang membuat saya sedih dengan keadaan saya sendiri dan orang-orang seperti saya. selalu terhalang komunikasi. kasian. bahkan mungkin mereka lebih baik menjadi pekerja sampai mereka sanggup berbicara dan didengar.
inilah yang membuat saya penasaran dengan buku yang berjudul leadership ala jokowi. semoga bukunya tidak mengecawakan dan memberi harapan lebih. #loh
lihat saja nanti...
lebih lagi saya senang berjalan di depan. entah mengapa saya agak kmerasa kagok jika berjalan di belakang seseorang. saya tidak suka menahan langkah saya. terasa pegal di lutut. tapi sepertinya saya akhir-akhir ini sedang mencoba memperlambat jalan saya dan berbaur dengan gerombolan.
oh ya, banyak yang bilang juga jalan di depan itu tipe orang-orang memimpin. tapi sepertinya saya bukan atau belum sampai ketahap seperti itu. saya belum siap memimpin. entah mengapa saya belum menemukan kesenangan memimpin. saya lebih suka berbaur dan menjajarkan posisi.
mungkin dikarenakan saya belum menemukan sosok untuk dijadikan contoh. mungkin saya belum banyak membaca dan memperhatikan sosok-sosok pemimpin. karena pemimpin-pemimpin yang diberitakan atau yang berada disekitar saya tidak memuaskan saya. mereka pemimpin yang hanya memimpin dengan standard yang biasa-biasa saja atau mungkin beberapanya saya anggap buruk. saya lebih memilih diri saya sendiri, tak ingin menjadi pemimpin sebelum saya tahu benar apa yang akan saya lakukan.
pemimpin-pemimpin yang saya temui lebih kearah beberapa tipe. seperti mereka yang jago berbicara dan berdiplomasi, memiotivasi dan sebagainya tapi jarang melihat keadaan dibawah dan akhirnya hanya memaksakan kehendak sendiri. andai saja mereka mau melihat keadaan yang terjadi dan ikut merasakan pekerjaan bawahan walau sebentar, mungkin mereka akan menjadi pemimpin yang hebat nantinya.
atau mereka yang pandai berbiacara namun tak pandai bekerja sama sekali. saya agak muak dengan mereka. mereka seperti anti aturan. sebagai contoh mereka berkoar-koar untuk datang tepat waktu disaat mereka sendiri datang terlambat. membuat kesal dan lebih baik tidak usah dibicarakan.
dan terakhir pemimpin yang pasrah, seperti saya mungkin. pemimpin yang kadang memilliki ide yang bagus, memiliki kinerja dan etos tinggi bagus namun mereka tak bisa berkomunikasi dengan baik. alhasil mereka lebih banyak diam dan pasrah akan keadaan. ini yang membuat saya sedih dengan keadaan saya sendiri dan orang-orang seperti saya. selalu terhalang komunikasi. kasian. bahkan mungkin mereka lebih baik menjadi pekerja sampai mereka sanggup berbicara dan didengar.
inilah yang membuat saya penasaran dengan buku yang berjudul leadership ala jokowi. semoga bukunya tidak mengecawakan dan memberi harapan lebih. #loh
lihat saja nanti...
Tuesday, April 9, 2013
Publik Figur Kok Kabur?
sepertinya akhir-akhir ini saya muak dengan layar kaca. terutama mereka yang berada didalamnya. tak semua, tetapi tetap saja saya muak. saya lebih suka menonton kartun atau semacamnya dibandingkan harus menonton mereka yang tak pernah diketahui baik buruknya. karena buruk nya mereka telihat baik dan sebaliknya. sama halnya dengan saya bosan dengan media. mereka,beberapa mungkin, seakan memutar balikan fakta. membuat kebenaran tak terungkap dan kejahatan terus tertutup. semua terus kabur.
dilain kisah, saya kesal dengan mereka yang berkoar-koar memperbaiki bangsa dan ceramah memberi motivasi seenaknya seakan hidup itu mudah hanya di layar kaca. sebelumnya saya biasa saja. toh baik juga memberikan orang lain motivasi atau membuat acara-acara yang menunjang potensi. tapi sepertinya dibalik itu ada kepentingan pribadi atau kelompok.
ya mungkin ini hanya persepsi saya, tapi saya merasa kesal dan mungkin membuat tulisan saya berantakan. mereka mengaku dan berkoar demi kemajuan negara. memberi motivasi dan mendidik di layar kaca. mereka seakan mengaku merekalah yang paling mencintai Indonesia. tapi jika ditanya untuk mengisi acara langsung untuk pendidikan atau mendidik kita-kita generasi muda tidak sedikit dari mereka yang susah untuk diperjuangkan. mereka terlalu mahal dengan nama mereka. mungkin mereka tersialukan dengan nama mereka sendiri sehingga mereka lupa akan idealisme mereka sendiri. mereka menjadi terlena. kabur dari tujuan dan kata-kata mereka dilayar kaca.
jika niat mereka murni membangun bangsa, kenapa sulit untuk menjadi pendidik dengan durasi hanya 90 menit? pahlawan saja rela berperang bertahun-tahun bahkan mati di medan perang dengan jiwa mereka yang murni membela negara.
dilain kisah, saya kesal dengan mereka yang berkoar-koar memperbaiki bangsa dan ceramah memberi motivasi seenaknya seakan hidup itu mudah hanya di layar kaca. sebelumnya saya biasa saja. toh baik juga memberikan orang lain motivasi atau membuat acara-acara yang menunjang potensi. tapi sepertinya dibalik itu ada kepentingan pribadi atau kelompok.
ya mungkin ini hanya persepsi saya, tapi saya merasa kesal dan mungkin membuat tulisan saya berantakan. mereka mengaku dan berkoar demi kemajuan negara. memberi motivasi dan mendidik di layar kaca. mereka seakan mengaku merekalah yang paling mencintai Indonesia. tapi jika ditanya untuk mengisi acara langsung untuk pendidikan atau mendidik kita-kita generasi muda tidak sedikit dari mereka yang susah untuk diperjuangkan. mereka terlalu mahal dengan nama mereka. mungkin mereka tersialukan dengan nama mereka sendiri sehingga mereka lupa akan idealisme mereka sendiri. mereka menjadi terlena. kabur dari tujuan dan kata-kata mereka dilayar kaca.
jika niat mereka murni membangun bangsa, kenapa sulit untuk menjadi pendidik dengan durasi hanya 90 menit? pahlawan saja rela berperang bertahun-tahun bahkan mati di medan perang dengan jiwa mereka yang murni membela negara.
Syukurku Membawa Makmur
saya sering berfikir, sangat sering, tentang bakat yang saya miliki. olahraga? sepertinya sangat bukan bidang saya. saya hanya menyukainya atau lebih tepatnya menontonnya. kesenian? saya termasuk sulit belajar seni. mungkin saya agak kreatif. agak ya? tapi sepertinya tetap saja saya sulit mempelajari kesenian. sampai menulis sepertinya saya hanya bisa, bukan expert. dan saya berfikir apa saya memang tak memiliki bakat? selain bakat berbadan besar tentunya. haha..
tapi saya tak lantas menyerah. ya, kadang saya merasa minder dan malu karena saya tak punya apa-apa untuk di tonjolkan. bahkan di depan umum atau didepan teman-teman pun saya termasuk sulit berbicara, bercerita, atau berkomunikasi dengan baik. tapi ya tadi, saya tak lantas menyerah.
saya masih beryukur saya memiliki tenaga yang cukup dengan indra yang lengkap. saya bersyukur saya masih bisa melakukan segalanya. karena saya rasa ketidak milikin saya akan bakat adalah anugrah bagi saya. saya jadi sadar bahwa saya tercipta bukan untuk berleha dan berpuas dengan bakat saya. saya di lahirkan dengan perjuangan oleh ibu saya, dibesarkan dengan susah payah oleh orang tua saya, dan pada akhirnya saya sendiri harus berjuang dan bersusah payah untuk menjadi besar nantinya.
ketidak milikan saya akan bakat membuat saya sadar. saya adalah orang yang harus selalu berusaha. ya, kadang memang saya merasa lelah. tapi toh selalu ada malam yang menemani istirahat saya. selalu ada pundak kedua orang tua saya untuk menyimpan resah. masih ada rifa dan sahabat-sahabat saya untuk sekedar merelekskan rongga mulut saya dengan tawa. terlebih saya memiliki Allah yang selalu tahu kondisi saya. saya memiliki segalanya tanpa saya sadar.
karena siapa bilang tanpa bakat orang ga bisa sukses? banyak kok yang sukses tanpa bakat. tapi sedikit yang sukses tanpa usaha. jika saya boleh jujur kadang saya lebih suka orang lain memandang saya bukan apa-apa. seperti membuat kejutan dengan cara saya menjadi siapa-siapa dikedepannya. karena toh kita tak boleh menilai buku hanya dari sampulnya bukan?
dengan rasa syukur ini lah saya melangkah, tersenyum, dan ikhlas. saya masih punya hidup untuk di optimalkan. saya masih punya lingkungan yang baik dan saya masih punya Allah. langkah saya mungkin tak sebesar langkah kalian, atau mungkin bisa dibilang saya sedang merayap sekarang. tapi inilah yang akan membentuk kuat otot-otot kehidupan saya yang akan berguna di masa mendatang.
makanya, yuk bersyukur! :)
tapi saya tak lantas menyerah. ya, kadang saya merasa minder dan malu karena saya tak punya apa-apa untuk di tonjolkan. bahkan di depan umum atau didepan teman-teman pun saya termasuk sulit berbicara, bercerita, atau berkomunikasi dengan baik. tapi ya tadi, saya tak lantas menyerah.
saya masih beryukur saya memiliki tenaga yang cukup dengan indra yang lengkap. saya bersyukur saya masih bisa melakukan segalanya. karena saya rasa ketidak milikin saya akan bakat adalah anugrah bagi saya. saya jadi sadar bahwa saya tercipta bukan untuk berleha dan berpuas dengan bakat saya. saya di lahirkan dengan perjuangan oleh ibu saya, dibesarkan dengan susah payah oleh orang tua saya, dan pada akhirnya saya sendiri harus berjuang dan bersusah payah untuk menjadi besar nantinya.
ketidak milikan saya akan bakat membuat saya sadar. saya adalah orang yang harus selalu berusaha. ya, kadang memang saya merasa lelah. tapi toh selalu ada malam yang menemani istirahat saya. selalu ada pundak kedua orang tua saya untuk menyimpan resah. masih ada rifa dan sahabat-sahabat saya untuk sekedar merelekskan rongga mulut saya dengan tawa. terlebih saya memiliki Allah yang selalu tahu kondisi saya. saya memiliki segalanya tanpa saya sadar.
karena siapa bilang tanpa bakat orang ga bisa sukses? banyak kok yang sukses tanpa bakat. tapi sedikit yang sukses tanpa usaha. jika saya boleh jujur kadang saya lebih suka orang lain memandang saya bukan apa-apa. seperti membuat kejutan dengan cara saya menjadi siapa-siapa dikedepannya. karena toh kita tak boleh menilai buku hanya dari sampulnya bukan?
dengan rasa syukur ini lah saya melangkah, tersenyum, dan ikhlas. saya masih punya hidup untuk di optimalkan. saya masih punya lingkungan yang baik dan saya masih punya Allah. langkah saya mungkin tak sebesar langkah kalian, atau mungkin bisa dibilang saya sedang merayap sekarang. tapi inilah yang akan membentuk kuat otot-otot kehidupan saya yang akan berguna di masa mendatang.
makanya, yuk bersyukur! :)
Sampai Kapan Saya Bertanya?
Jadi
orang indonesia itu unik dan ga susah, menurut pemikiran saya. Tadi sore
(selasa 9/4) saya pergi ke salah satu pedesaan dekat universitas saya di
cikarang. Dengan niat untuk mencari keluarga kurang mampu dalam segihal
pendidikan. Kami akan mencoba meringankan beban mereka sedikit dengan
memberikan apa yang anak mereka inginkan seperti halnya baju seragam, buku,
atau lainnya. Acara kami berjudul Grand Of Hopes dan saya terpilih mengemban
tanggung jawab sebagai dokumentasi.
Saat
kami sedang meninjau, tenyata esok hari akan diadakan acara pernikahan bagi anak
salah satu penduduk disana. Anak bontot (anak terakhir) katanya. Dan yang
sedang berduduk-duduk dekat tenda itu adalah ibu mempelai dengan cucunya. Saya
langsung berfikir, betapa mudah menjadi penduduk indonesia? Penduduk indonesia
asli. Untuk mengadakan acara resepsi tinggal sebar undangan yang tak usah
terlalu bagus dan mahal tapi menarik, pasang tenda sederhana depan rumah,
siapakan makanan seadanya dan jadilah acara resepsi nikahan anak anda.
Semua
orang bahagia. Tak perlu pakai wedding organizer atau semacamnya, toh para
undangan akan tetap bahagia. Apalagi jika makanan asli indonesia yang
lezat-lezat dihidangkan. Begitu juga dengan keramahan orang indonesia. Kita
tahu jika ada acara pernikahan, kita tinggal pake batik dan salam-salaman
sebelum mengambil hidangan. Walau kita tidak mengenal pengantin ataupun
keluarganya. jarang atau mungkin tidak ada yang mengusir. Orang indonesia itu
baik-baik.
Tapi
semua berubah setelah negara api menyerang. #loh. Negara api yang dimaksudkan
saya adalah globalisasi. Sekarang tdak sedikit orang indonesia yang gila harta
dan jabatan. Kata toleransi, gotong royong, ramah-tamah sudah minim dijumpai.
Terutama di kota-kota besar. Sungguh disayangkan, banyak perumahan-perumahan
yang cukup besar tapi tak berpenghuni. Maksud daya disana jarang ada interaksi.
Apa bedanya perumahan tersebut dengan kuburan? Tak saling mengenal dengan
tetangga dan tak ada interaksi satu sama lain. Mungkin ada, namun terlihat
minim.
Bagi
saya mereka warga negara indonesia, namun telah meninggalkan keaslian mereka.
Dari dulu indonesia sudah dikenal dengan negara yang berbudaya. Dari majalah
natgeo yang saya baca (edisi bulan mei 2013), banyak negara-negara asing yang
datang ke indonesia karena ketenaran budaya indonesia terutama budaya jawa,
dahulu. Pada saat nenek sayapun masih direncanakan untuk hidup sepertinya.
Namun sekarang tak seperti dulu. ya semua memang berubah, tapi mengapa
mengalami penurunan?
Globalisasi?
Modernisasi? Atau kata apalagi yang patut digunakan sebagai kambing hitam?
Menurut saya, kita sebagai warga negara indonesia asli yang salah. Kita terlalu
terlena dengan kesempatan-kesempatan yang ada. Kita mencoba mengenal
negara-negara asing, negara-negara maju, dan mencoba mengadaptasikan gaya
mereka. Namun menurut saya itu tak berhasil membuat kita tetap menjadi warga
negara indonesia asli. Kita hanya imitasi mereka yang terlalu terlena.
Kita
melupakan satu hal, globalisasi disini dimaksudkan untuk memajukan negara kita
sendiri. seharusnya kita membandingkan bukan mengimitasikan. Seharusnya kita
semakin sadar dan berusaha bersaing dengan negara luar yang maju dengan cara
kita sendiri. selama kita menjadi diri kita sendiri, dalam hal ini menjadi
warga negara indonesia asli, saya yakin kita yang nantinya menjadi
pusat. Dalam segala bidang. Mungkin batik menjadi fashion yang sangat dikagumi
di dunia. Mungkin tempat wisata kita menjadi yang terbaik dan di inginkan. Dan
masih banyak kemungkinan lainnya selama kita tak melupakan jati diri kita dan
menjaganya. dan bukan pula hanya mengkritik dan berbuat apa-apa, seperti saya.
Bukannya
terlalu sibuk menghabiskan harta untuk menghidupi negara lain. Toh negara
sendiri ajah masih bobrok kok malah hura-hura dinegara lain. Sampai kapan? sampai kapan apatis? sampai kapan berkutub barat? Sampai kapan hanya mengkritik? Sampai kapan hanya berdemo? Sampai kapan
mengabaikan produk dalam negeri? Katanya cinta indonesia, tapi kok malah ga
perhatian?
Ini
juga merupakan tamparan untuk diri saya sendiri. sampai kapan saya hanya
mencintai indonesia tanpa bertindak apa-apa?
Sunday, April 7, 2013
Saya Untuk Hari Esok
malam senin ini masih ramai. sama seperti bulan lalu sebelum liburan semester kemarin. masih banyak teman-teman setia saya menamni disini, walau mereka mungkin hanya duduk dan tiduran saja, tapi kami tetap berbagi. dari makanan hingga tawa.
tak terasa liburan tiga minggu terlewat begitu saja. kebebasan seakan lepas. akan ada beban baru yang harus ditanggung, atau lebih tepatnya akan banyak tangung jawab baru yang harus dipikul. saya sering bilang, hal yang bagus takan datang dengan mudah. harus banyak usaha dan pengorbanan. begitupula hidup saya seperti ini.
saya sedang berusaha dan berkorban. berusaha dan berkorban untuk masa depan saya. dengan harapan masa depan yang baik tentunya. saya pula yakin tidak ada hal yang sia-sia. saya selalu yakin apa yang kita lakukan detik ini akan berpengaruh untuk dikedepannya. entah itu detik selanjutnya atau mungkin kehidupan selanjutnya. kita mungkin menjadi sejarah atas apa yang kita lakukan, atau kita tak menjadi siapa-siapa. tergantung kita, dan apa tindakan kita. saya rasa semua orang sudah tahu akan hal itu.
saya merasa galau. saya terlalu berfikir keras atas apa yang akan saya lakukan kedepan. saya sudah memasuki semester tiga dan masih belum merasa sebagai anak kuliah berjurusan hubungan internasional. saya masih senang menghitung dan matematika. seperti kemarin saya merasa senang saat mengajarkan beberapa soal kepada adik kelas saya. saya lega saya masih mengingat beberapa teori di dunia angka itu.
tapi saya tak pernah menyesal dengan keputusan saya. saya selalu bersyukur karena selain ilmu yang saya dapat, saya banyak mendapat pengalaman bau dan terutama sahabat-sahabat baru. saya bahagia dapat bertemu dengan mereka. setidaknya jikapun nantinya saya tidak menjadi diplomat, saya tetap bersyukur saya telah bertemu dengan orang-orang hebat ini. saya bersyukur di hari ini, dan dengan setia menunggu hari esok.
selamat datang semester 3.
tak terasa liburan tiga minggu terlewat begitu saja. kebebasan seakan lepas. akan ada beban baru yang harus ditanggung, atau lebih tepatnya akan banyak tangung jawab baru yang harus dipikul. saya sering bilang, hal yang bagus takan datang dengan mudah. harus banyak usaha dan pengorbanan. begitupula hidup saya seperti ini.
saya sedang berusaha dan berkorban. berusaha dan berkorban untuk masa depan saya. dengan harapan masa depan yang baik tentunya. saya pula yakin tidak ada hal yang sia-sia. saya selalu yakin apa yang kita lakukan detik ini akan berpengaruh untuk dikedepannya. entah itu detik selanjutnya atau mungkin kehidupan selanjutnya. kita mungkin menjadi sejarah atas apa yang kita lakukan, atau kita tak menjadi siapa-siapa. tergantung kita, dan apa tindakan kita. saya rasa semua orang sudah tahu akan hal itu.
saya merasa galau. saya terlalu berfikir keras atas apa yang akan saya lakukan kedepan. saya sudah memasuki semester tiga dan masih belum merasa sebagai anak kuliah berjurusan hubungan internasional. saya masih senang menghitung dan matematika. seperti kemarin saya merasa senang saat mengajarkan beberapa soal kepada adik kelas saya. saya lega saya masih mengingat beberapa teori di dunia angka itu.
tapi saya tak pernah menyesal dengan keputusan saya. saya selalu bersyukur karena selain ilmu yang saya dapat, saya banyak mendapat pengalaman bau dan terutama sahabat-sahabat baru. saya bahagia dapat bertemu dengan mereka. setidaknya jikapun nantinya saya tidak menjadi diplomat, saya tetap bersyukur saya telah bertemu dengan orang-orang hebat ini. saya bersyukur di hari ini, dan dengan setia menunggu hari esok.
selamat datang semester 3.
Friday, April 5, 2013
Jodoh Takan Kemana
saya selalu percaya dengan pepatah 'jodoh tak akan kemana'. jodoh itu sudah ditakdirkan bukan? menemani rezeki dan kematian. tapi saya juga percaya, jodoh bukan hanya berkaitan dengan perasaan cinta atau pasang-pasangan yang sering kali ditfsirkan orang-orang. menurut saya, kita berjodoh dengan beberapa hal. pasangan, handphone, bahkan sampai hewan peliharaan.
pernah terjadi di rumah saya. ibu saya sangat menyukai kucing. dulu kami haya mmiliki tiga kucing yang bernama cacay (induk, betina), jojon (anak, jantan), dan jejen (anak, betina). mereka juga kami dapatkan dari pemberian teman kakak saya yang sudah memiliki jumlah kucing yang sangat banyak. merekabingung dengan kelahiran anak kucing lain da akhirnya hak asuh diserahkan kepada kami.
suatu saat datang mojo jojo, kucing putih persia biasa dipanggil mojo, dengan niatan akan dikawinkan dengan cacay (kucng keturuna persia dan domstik). hasil yang diharapka akan memprbaiki keturunan cacay dan mendapatkan anak-anak kucing luycu lainnya. namun semua rencana gagal, tapa diketauhi pihak wanita (keluarga kami) ternyata mojo suda di kebiri. cacay pupus cinta dan kabur. kami kehilagan induk kucing tersayang. namun cerita tak berhenti.
karena tak mungkin lagi untuk dikawinkan, mojo pun dipulagkan. ibu saya menagis. dia sudah terlanjur sayang dengan mojo. bahkan bisa dibilang tak mau kehilagan mojo. seriusan, ibu saya terus-terusan menangis saat itu. dia berdoa "kalau memang mojo jodoh sama bunda, pasti mojo kesini lagi ya.' sebelum mojo dipulagkan.
seminggu kemudian, si pemilik yang notabene adalah tema kakak saya yang lain sedang membutuhkan uang. dengan ringan hati (menurut saya), dia mejual mojo dengan harga 1 juta. lagsung saja ibu saya mmbeli nya dan mojo pun jadi bagian dari keluarga besar kami. saya simpulkan, ibu saya dan mojo memang berjodoh.
saya juga pernah mengalaminya. saat saya tes snmptn tauhn 2012 lalu saya berdoa, "ya Allah, jika memang saya berjodoh dengan matematika maka luluskan lah saya. tapi jika saya berjodoh engan hubungan internasional maka gagalkan lah saya." dan saya pun tidak lulus. mungin memang saya yang kurang belajar. tapi saya tarik benang merah dari rentetan peristiwa. saya mendapat nlai 100 di ujian PKn saya di bab Hubungan Internasional. saya sering lewat tugu jababeka di tol dan berkata "suatu saat kuliah disitu ah". lalu saya pernah ikut try out yang di adakan oleh unpad kalau tidak salah dengan jurusan yang dicoba Hubungan Intrnasional, dan saya mndapat nilai terbaik ke-2 kalau tidak salah. di psikotes saya yang diadakan oleh SMA saya masa itu menyebutkan Hubungan Internasional di urutan nomor 1 sebagai pilihan saya mendatang. saya menyimpulkan, saya dan hubungan intrnasional memang berjodoh. walau saya lebih menyukai matematika, tapi tak semua kisah berakhir bahagia. namun semua kisah diberikan hasil yang terbaik.
sama seperti malam ini dan malam-mala sebelumnya, saya masih percaya jodoh tak akan kemana. seperti itu pula saya percaya degan Rifa. ia tak akan kemana, ia akan tetap menjadi sahabat terbaik saya. jadi isteri ataupun tidak nantinya, semua merupakan pilihan terbaik dari Allah dan kami tetap berjodoh. itu sudah cukup bagi saya. karena kadang yang terbaik bukan apa yang kita harapkan. Allah selalu memberikan hasil yang terbaik, selama kita berusaha degan kekuatan terbaik kita. seperti saya yang menyayangi dia sebagai sebaik-baiknya sahabat da jodoh saya. terimakasih atas 14 bulan yang berlalu, dan kurang lebih 6 tahun kebelakang ini. memberi saya banyak inspirasi dan pengalaman untuk menjadi yang terbaik. untuk menemukan jodoh saya.
pernah terjadi di rumah saya. ibu saya sangat menyukai kucing. dulu kami haya mmiliki tiga kucing yang bernama cacay (induk, betina), jojon (anak, jantan), dan jejen (anak, betina). mereka juga kami dapatkan dari pemberian teman kakak saya yang sudah memiliki jumlah kucing yang sangat banyak. merekabingung dengan kelahiran anak kucing lain da akhirnya hak asuh diserahkan kepada kami.
suatu saat datang mojo jojo, kucing putih persia biasa dipanggil mojo, dengan niatan akan dikawinkan dengan cacay (kucng keturuna persia dan domstik). hasil yang diharapka akan memprbaiki keturunan cacay dan mendapatkan anak-anak kucing luycu lainnya. namun semua rencana gagal, tapa diketauhi pihak wanita (keluarga kami) ternyata mojo suda di kebiri. cacay pupus cinta dan kabur. kami kehilagan induk kucing tersayang. namun cerita tak berhenti.
karena tak mungkin lagi untuk dikawinkan, mojo pun dipulagkan. ibu saya menagis. dia sudah terlanjur sayang dengan mojo. bahkan bisa dibilang tak mau kehilagan mojo. seriusan, ibu saya terus-terusan menangis saat itu. dia berdoa "kalau memang mojo jodoh sama bunda, pasti mojo kesini lagi ya.' sebelum mojo dipulagkan.
seminggu kemudian, si pemilik yang notabene adalah tema kakak saya yang lain sedang membutuhkan uang. dengan ringan hati (menurut saya), dia mejual mojo dengan harga 1 juta. lagsung saja ibu saya mmbeli nya dan mojo pun jadi bagian dari keluarga besar kami. saya simpulkan, ibu saya dan mojo memang berjodoh.
saya juga pernah mengalaminya. saat saya tes snmptn tauhn 2012 lalu saya berdoa, "ya Allah, jika memang saya berjodoh dengan matematika maka luluskan lah saya. tapi jika saya berjodoh engan hubungan internasional maka gagalkan lah saya." dan saya pun tidak lulus. mungin memang saya yang kurang belajar. tapi saya tarik benang merah dari rentetan peristiwa. saya mendapat nlai 100 di ujian PKn saya di bab Hubungan Internasional. saya sering lewat tugu jababeka di tol dan berkata "suatu saat kuliah disitu ah". lalu saya pernah ikut try out yang di adakan oleh unpad kalau tidak salah dengan jurusan yang dicoba Hubungan Intrnasional, dan saya mndapat nilai terbaik ke-2 kalau tidak salah. di psikotes saya yang diadakan oleh SMA saya masa itu menyebutkan Hubungan Internasional di urutan nomor 1 sebagai pilihan saya mendatang. saya menyimpulkan, saya dan hubungan intrnasional memang berjodoh. walau saya lebih menyukai matematika, tapi tak semua kisah berakhir bahagia. namun semua kisah diberikan hasil yang terbaik.
sama seperti malam ini dan malam-mala sebelumnya, saya masih percaya jodoh tak akan kemana. seperti itu pula saya percaya degan Rifa. ia tak akan kemana, ia akan tetap menjadi sahabat terbaik saya. jadi isteri ataupun tidak nantinya, semua merupakan pilihan terbaik dari Allah dan kami tetap berjodoh. itu sudah cukup bagi saya. karena kadang yang terbaik bukan apa yang kita harapkan. Allah selalu memberikan hasil yang terbaik, selama kita berusaha degan kekuatan terbaik kita. seperti saya yang menyayangi dia sebagai sebaik-baiknya sahabat da jodoh saya. terimakasih atas 14 bulan yang berlalu, dan kurang lebih 6 tahun kebelakang ini. memberi saya banyak inspirasi dan pengalaman untuk menjadi yang terbaik. untuk menemukan jodoh saya.
Thursday, April 4, 2013
Aku Kembali Merindu
besok malam saya sudah harus kembali ke cikarang. tempat dimana gue belajar dan memulai hidup baru. semester lain harus di tempuh. minanggalkan kenangan yang pernah di tanam di kota hujan yang sangat saya sayangi ini. kota Bogor.
sekilas saya membaca post-post lama saya. saya membaca tentang alegria dasn taruna. saya merindukannya. saya merindukan masa-masa SMA saya yang tak terisi banyak, tapi cukup penuh untuk di kenang.
saya bertemu orang-orang terbaik di Taruna. sahabat-sahabat yang super baik da relaberkorban. kita tak selalu akur bahkan saling membenci kadang, tapi jauh dari itu kita saling menyayangi. kita saling merindu di hari ini. kita sudah saling berpisah. beberapa di jawa barat, beberapa lain di jawa lain, dan lainnya di luar pulau. kita saling menyayangi.
aku merindu masa-masa itu. dimana kita bisa tertawa lepas. aku rindu dimana beban tak terasa beban bersama mereka. dan disaat seberapa besarpun beban yang sedang kami tanggung, kami tetap tertawa. kami tetap bahagia, karena sau pasti. kami masih tahu kalau kami masih saling memiliki.
selain itu ada alegria. groupo yang saya cintai. tapi saya sadar tidak semua yang kita cintai harus diperjuangkan. aku merindu saat-saat di taman. aku tak banyak aktif, tapi aku merasa berada di rumahku yang lain. aku senang engan suasana yang penuh canda dan tawa. walau itu tak bertahan seberapa lama. aku masih menyayangi mereka, didalam hatiku. setidaknya it yang ku tahu. karena secara sadar aku merindukan masa-masa itu.
tapi dunia terus berputar. tak akan ada yang terus sama. semua berubah. aku harus menatap masa depan sambil memeluk erat masalalu. aku merindukan mereka, merindukan masa-masa itu.
sekilas saya membaca post-post lama saya. saya membaca tentang alegria dasn taruna. saya merindukannya. saya merindukan masa-masa SMA saya yang tak terisi banyak, tapi cukup penuh untuk di kenang.
saya bertemu orang-orang terbaik di Taruna. sahabat-sahabat yang super baik da relaberkorban. kita tak selalu akur bahkan saling membenci kadang, tapi jauh dari itu kita saling menyayangi. kita saling merindu di hari ini. kita sudah saling berpisah. beberapa di jawa barat, beberapa lain di jawa lain, dan lainnya di luar pulau. kita saling menyayangi.
aku merindu masa-masa itu. dimana kita bisa tertawa lepas. aku rindu dimana beban tak terasa beban bersama mereka. dan disaat seberapa besarpun beban yang sedang kami tanggung, kami tetap tertawa. kami tetap bahagia, karena sau pasti. kami masih tahu kalau kami masih saling memiliki.
selain itu ada alegria. groupo yang saya cintai. tapi saya sadar tidak semua yang kita cintai harus diperjuangkan. aku merindu saat-saat di taman. aku tak banyak aktif, tapi aku merasa berada di rumahku yang lain. aku senang engan suasana yang penuh canda dan tawa. walau itu tak bertahan seberapa lama. aku masih menyayangi mereka, didalam hatiku. setidaknya it yang ku tahu. karena secara sadar aku merindukan masa-masa itu.
tapi dunia terus berputar. tak akan ada yang terus sama. semua berubah. aku harus menatap masa depan sambil memeluk erat masalalu. aku merindukan mereka, merindukan masa-masa itu.
Tuesday, April 2, 2013
Semakin Buram
akhir-akhir ini saya semakin bingung dengan problema yang terjadi. media massa memberitakan ini itu dengan mudahnya, dengan cepatnya. semua pandangan bisa dilihat tapi semakin banyak juga yang buramkan. orang-orang sekarang sudah bersandiwara pol-polan. bukan hanya di panggung teater, tapi juga di panggung kehidupan. seperti lirik lagu lama. dunia ini, panggung sandiwara.
dari eyang sampai cucu, dari demonstran sampai presiden sekarang ga ketawan buruk baiknya. semua blur. kita tidak bisa begitu saja mengambil keputusan yag mana yang baik dan mana yang bena. sempat saya disangka terlalu pro dengan pemerintahan disaat membicarakan politik. sejujurnya saya tidak pernah pro siapa-siapa. saya hanya sedang mencari kebenaran.
pencarian kadang tak berujung baik. saya mala muak dengan keadaan. apa seperti ini negara yang di harapkan para founding faher kita dahulu? setelah membaca buku catatan seorang demonstran yang diambil dari buku harian Soe Hok Gie saya semakin sadar. saya tidak bisa begitu saja terlalu naif dan menganggap seua baik-baik saja. orang baik bisa dibutakan dengan kekuasaan. bangku panas memang merenggut jiwa, hati nurani.
sekarang mungkin banyak golongan muda ataupun tua yang berjuang mengatasnamakan kemanusiaan denga rasa nasionalisme yag tinggi. tapi setelah merka berada diatas apa mereka aka tetap mempertahankan idealisme mereka?
dari eyang sampai cucu, dari demonstran sampai presiden sekarang ga ketawan buruk baiknya. semua blur. kita tidak bisa begitu saja mengambil keputusan yag mana yang baik dan mana yang bena. sempat saya disangka terlalu pro dengan pemerintahan disaat membicarakan politik. sejujurnya saya tidak pernah pro siapa-siapa. saya hanya sedang mencari kebenaran.
pencarian kadang tak berujung baik. saya mala muak dengan keadaan. apa seperti ini negara yang di harapkan para founding faher kita dahulu? setelah membaca buku catatan seorang demonstran yang diambil dari buku harian Soe Hok Gie saya semakin sadar. saya tidak bisa begitu saja terlalu naif dan menganggap seua baik-baik saja. orang baik bisa dibutakan dengan kekuasaan. bangku panas memang merenggut jiwa, hati nurani.
sekarang mungkin banyak golongan muda ataupun tua yang berjuang mengatasnamakan kemanusiaan denga rasa nasionalisme yag tinggi. tapi setelah merka berada diatas apa mereka aka tetap mempertahankan idealisme mereka?
Monday, April 1, 2013
Serba Cepat
akhir-akhir ini saya berfikir. ya saya selalu berfikir. kita sebagi mnusia kini semakin berlomba cepat dengan zaman. atau kurang leih terbawa arus zaman dan meninggalkan kebiasan-kebiasaan lama yang sebenarnya lebih banyak manfaatnya. kita sekarang lebih berfikir praktis. tak peduli bidang apa, semua bisa menjadi kian praktis. dari bikin teh manis sampai jadi penulis sekarang serba cepat.
tadi pagi saya menonoton salah satu acara telvisi yang saya sendiri lupa judulnya tentang ojeg sepeda onthel. keberadaan mereka semakin terancam seperti elang garuda yang saya temui di kebun binatang. mereka menarik perhatian dan memiliki banyak manfaat. tapi ya tadi, mereka (ojeg onthel) tidak menarik untuk dibudidayakan. sebagaian besar orang lebih memilih menaiki ojeg sepeda motor karena tergoong cepat. padahal sepeda onthel lebih murah dan kita bisa mendukung program go green dengan mengurangi emisi gas yang ditimbulkan kendaraan bermotor.
situasi seperti ini juga hadir dalam kehidupan lingkungan rumah saya. dari tukang baso malang sampai tukang sayur keliling menggunakan motor. say tak tahu apa yang ada dipikiran mereka. mungkin meeka hanya berfikir praktis dan kenyamanan. padahal dengan menggunakan motor mereka ikut berpartisipasi dalam meningkatnya global warming dan lumaan sulit memanggil mereka. karena mereka 'cepat'.
jika mereka kembali mmakai grobak dorong, berap banyak manfaat yang dapat mereka raih? kesehatan, pelanggan, uang tambahan dari pada untuk membeli bensin yang kian mahal dan langka. walau memang melelahkan, tetapi tak ada hal yang bagus datang denga udah bukan? harus ada yang dikorbankan. setidaknya dari pada membayar dengan uang untuk seliter bnsin, lebih baik membayar dengan tenaga untuk sehat dimasa mndatang. lebih enak uang bensinya untuk beli baso. ;p
buka bumi yang butuh kita selamatkan, tapi kita butuh bumi untuk menyelamatkan diri kita sendiri.
tadi pagi saya menonoton salah satu acara telvisi yang saya sendiri lupa judulnya tentang ojeg sepeda onthel. keberadaan mereka semakin terancam seperti elang garuda yang saya temui di kebun binatang. mereka menarik perhatian dan memiliki banyak manfaat. tapi ya tadi, mereka (ojeg onthel) tidak menarik untuk dibudidayakan. sebagaian besar orang lebih memilih menaiki ojeg sepeda motor karena tergoong cepat. padahal sepeda onthel lebih murah dan kita bisa mendukung program go green dengan mengurangi emisi gas yang ditimbulkan kendaraan bermotor.
situasi seperti ini juga hadir dalam kehidupan lingkungan rumah saya. dari tukang baso malang sampai tukang sayur keliling menggunakan motor. say tak tahu apa yang ada dipikiran mereka. mungkin meeka hanya berfikir praktis dan kenyamanan. padahal dengan menggunakan motor mereka ikut berpartisipasi dalam meningkatnya global warming dan lumaan sulit memanggil mereka. karena mereka 'cepat'.
jika mereka kembali mmakai grobak dorong, berap banyak manfaat yang dapat mereka raih? kesehatan, pelanggan, uang tambahan dari pada untuk membeli bensin yang kian mahal dan langka. walau memang melelahkan, tetapi tak ada hal yang bagus datang denga udah bukan? harus ada yang dikorbankan. setidaknya dari pada membayar dengan uang untuk seliter bnsin, lebih baik membayar dengan tenaga untuk sehat dimasa mndatang. lebih enak uang bensinya untuk beli baso. ;p
buka bumi yang butuh kita selamatkan, tapi kita butuh bumi untuk menyelamatkan diri kita sendiri.
Rindukan Mentari
sudah dua minggu ini saya 'mendekap' di rumah dengan tembok ungu tercinta. dihiasi dengan beberapa renungan dan pelajaran. namun itu jeleknya saya, saya haya merenung. ditambah beberapa hari ini saya merasa tidak enak badan yang membuat saya sering kali bolak-balik ke tempat tapaan, kamar mandi.
liburan ini saya awali dengan niat menggebu-gebu untuk mengisi hari-hari dengan hal-hal positif dan menghasilkan. namun ternyata niat saya tak sebesar badan saya. ya, badan saya cukup besar. alhasil, liburan dua minggu ini terasa tidak begitu produktif. kerjaan saya disini hanya tidur, makan, jajan, kadang bermain gitar and of course ke kamar mandi.
90% lebih saya berada di dalam rumah. kadang saya merindukan hangatnya sinar mentari. seperti kebanyakan waktu yag saya kerjakan di Cikarang. namun ya sudahlah, saya terlalu malas untuk ke luar rumah. toh tak ada juga yang bisa dikerjakan. kebanyakan haya untuk pergi ke mini market dekat rumah saya.
kembali ke renungan saya, banyak juga hal yang saya pikirkan disini. pertama, ternyata saya belum sepenuhnya move on dari matematika ke politik dan sebagainya. saya rindu berhitung. kadang saya berfikir untuk pindah jurusan atau bahkan pindah universitas. namun saya tak mau mengecewakan orang tua saya yang sudah bersusah payah membiayai saya selama ini hanya untuk mengisi satu tahun 'nganggur' saya.
kedua. saya ternyata pemalas. sangat-sangat pemalas. bakan sampai saking malasnya saya, saya jatuh sakit. dugaan sementara karena biasanya saya beraktivitas sangat keras dan sekarang kerja saya hanya tidur da makan. dugaan kedua karena telat makan. mungkin. tapi saat saya di cikarang, saya sering telat makan hanya karena trlambat masuk kelas.
ketiga. benar dalam satu hubungan yang indah kita hanya mau megabarkan dan berbagi keindahan kesekitar kita. untuk apa melepas rindu dengan berbagi kesedihan bukan? idealnya seperti itu. namun kita juga manusia yang selalu memiliki hal-hal sedih untuk dibagikan. disaat kita mencintai seseorang kita akan berbagi senyum kepada mereka, tapi apa kita tahu bahwa mereka juga mungkin ingin mendengar keluh kesah dan kisah sedih kita. karena kita saling menyayangi. rasa sayang yang bukan satu arah. yah kira-kira beitu.
terakhir. percayalah pada saya, sakit itu tidak enak. saya yang biasanya mengahabiskan makanan sebanyak apapun bahkan menghabiskan makanan teman saya, kini bahkan tak sanggup menghabiskan makanan saya sendiri. syukurilah kesehatan kalian. serta, walau kalian berada ditengah-tengah surgaliburan janganlah kalian lupakan mentari di luar. mereka menunggu untk disapa.
liburan ini saya awali dengan niat menggebu-gebu untuk mengisi hari-hari dengan hal-hal positif dan menghasilkan. namun ternyata niat saya tak sebesar badan saya. ya, badan saya cukup besar. alhasil, liburan dua minggu ini terasa tidak begitu produktif. kerjaan saya disini hanya tidur, makan, jajan, kadang bermain gitar and of course ke kamar mandi.
90% lebih saya berada di dalam rumah. kadang saya merindukan hangatnya sinar mentari. seperti kebanyakan waktu yag saya kerjakan di Cikarang. namun ya sudahlah, saya terlalu malas untuk ke luar rumah. toh tak ada juga yang bisa dikerjakan. kebanyakan haya untuk pergi ke mini market dekat rumah saya.
kembali ke renungan saya, banyak juga hal yang saya pikirkan disini. pertama, ternyata saya belum sepenuhnya move on dari matematika ke politik dan sebagainya. saya rindu berhitung. kadang saya berfikir untuk pindah jurusan atau bahkan pindah universitas. namun saya tak mau mengecewakan orang tua saya yang sudah bersusah payah membiayai saya selama ini hanya untuk mengisi satu tahun 'nganggur' saya.
kedua. saya ternyata pemalas. sangat-sangat pemalas. bakan sampai saking malasnya saya, saya jatuh sakit. dugaan sementara karena biasanya saya beraktivitas sangat keras dan sekarang kerja saya hanya tidur da makan. dugaan kedua karena telat makan. mungkin. tapi saat saya di cikarang, saya sering telat makan hanya karena trlambat masuk kelas.
ketiga. benar dalam satu hubungan yang indah kita hanya mau megabarkan dan berbagi keindahan kesekitar kita. untuk apa melepas rindu dengan berbagi kesedihan bukan? idealnya seperti itu. namun kita juga manusia yang selalu memiliki hal-hal sedih untuk dibagikan. disaat kita mencintai seseorang kita akan berbagi senyum kepada mereka, tapi apa kita tahu bahwa mereka juga mungkin ingin mendengar keluh kesah dan kisah sedih kita. karena kita saling menyayangi. rasa sayang yang bukan satu arah. yah kira-kira beitu.
terakhir. percayalah pada saya, sakit itu tidak enak. saya yang biasanya mengahabiskan makanan sebanyak apapun bahkan menghabiskan makanan teman saya, kini bahkan tak sanggup menghabiskan makanan saya sendiri. syukurilah kesehatan kalian. serta, walau kalian berada ditengah-tengah surgaliburan janganlah kalian lupakan mentari di luar. mereka menunggu untk disapa.
Subscribe to:
Comments (Atom)