saya selalu dianggap seseorang yang cuek dan tak peduli dengan keadaan sekitar. tapi itu dulu, saya rasa. dulu saya hanya bocah rumahan yang tak memiliki kulit belang di punggung kaki. saya tak sering bermain keluar dan terpaku pada layar kaca atau papan monopoli. atau mungkin saya lebih seperti orang yang menutup diri.
tapi semakin tinggi angka di punggung saya, semakin banyak orang yang disapa, semakin banyak pula pengalaman saya. saya adalah manusia seperti yang lainnya, dimana kita adalah mahluk sosial. kadang memang kita memerlukan waktu untuk sendiri, human nature. tapi tak selamanya kita harus sendiri, tak boleh.
saya semakin terbuka, walau sedikit perubahannya setidaknya saya berubah ke arah yang lebih baik. bukan berarti saya orang yang senang curhat ke semua orang dan mempublikasikan rahasia semua mantan saya. saya hanya sedang mencoba berbagi, seperti yang sedang saya lakukan sekarang. tapi apa ini cukup?
kemarin saya berdiskusi dengan rifa. kita adalah orang yang senang bergaul tetapi kita memiliki batasan. seperti ada saja penghalang untuk berbaur dalam batasan-batasan tertentu. kita sadar kita bukan orang yang mudah menerima beberapa hal dan ini membuat saya sadar. bagimana kita bisa diterima bila kita sendiri tidak sedang menerima?
seperti pertanyaan-pertanyaan lainnya. bagaimana kita tidak dilupakan saat kita sendiri melupakan? baggaimana kita dimengerti jika tak mau mengerti? dan kenapa kita harus selalu menggunakan sudut pandang kita sendiri sebagai pelaku utama hidup kita? ya, human nature.
sampai kapan kita bergantung dengan human nature? semua pemberontakan dilakukan untuk memperbaiki keadaan atau sistem dan didukung dengan human natura. tapi mengapa kita tak mendemo diri kita sendiri untuk menjadi lebih baik? menurut saya, ini saatnya untuk bercermin dan melihat apakah kita sudah bisa menerima sebelum kita diterima?
No comments:
Post a Comment