Tuesday, April 9, 2013

Sampai Kapan Saya Bertanya?


Jadi orang indonesia itu unik dan ga susah, menurut pemikiran saya. Tadi sore (selasa 9/4) saya pergi ke salah satu pedesaan dekat universitas saya di cikarang. Dengan niat untuk mencari keluarga kurang mampu dalam segihal pendidikan. Kami akan mencoba meringankan beban mereka sedikit dengan memberikan apa yang anak mereka inginkan seperti halnya baju seragam, buku, atau lainnya. Acara kami berjudul Grand Of Hopes dan saya terpilih mengemban tanggung jawab sebagai dokumentasi.
Saat kami sedang meninjau, tenyata esok hari akan diadakan acara pernikahan bagi anak salah satu penduduk disana. Anak bontot (anak terakhir) katanya. Dan yang sedang berduduk-duduk dekat tenda itu adalah ibu mempelai dengan cucunya. Saya langsung berfikir, betapa mudah menjadi penduduk indonesia? Penduduk indonesia asli. Untuk mengadakan acara resepsi tinggal sebar undangan yang tak usah terlalu bagus dan mahal tapi menarik, pasang tenda sederhana depan rumah, siapakan makanan seadanya dan jadilah acara resepsi nikahan anak anda.
Semua orang bahagia. Tak perlu pakai wedding organizer atau semacamnya, toh para undangan akan tetap bahagia. Apalagi jika makanan asli indonesia yang lezat-lezat dihidangkan. Begitu juga dengan keramahan orang indonesia. Kita tahu jika ada acara pernikahan, kita tinggal pake batik dan salam-salaman sebelum mengambil hidangan. Walau kita tidak mengenal pengantin ataupun keluarganya. jarang atau mungkin tidak ada yang mengusir. Orang indonesia itu baik-baik.
Tapi semua berubah setelah negara api menyerang. #loh. Negara api yang dimaksudkan saya adalah globalisasi. Sekarang tdak sedikit orang indonesia yang gila harta dan jabatan. Kata toleransi, gotong royong, ramah-tamah sudah minim dijumpai. Terutama di kota-kota besar. Sungguh disayangkan, banyak perumahan-perumahan yang cukup besar tapi tak berpenghuni. Maksud daya disana jarang ada interaksi. Apa bedanya perumahan tersebut dengan kuburan? Tak saling mengenal dengan tetangga dan tak ada interaksi satu sama lain. Mungkin ada, namun terlihat minim.
Bagi saya mereka warga negara indonesia, namun telah meninggalkan keaslian mereka. Dari dulu indonesia sudah dikenal dengan negara yang berbudaya. Dari majalah natgeo yang saya baca (edisi bulan mei 2013), banyak negara-negara asing yang datang ke indonesia karena ketenaran budaya indonesia terutama budaya jawa, dahulu. Pada saat nenek sayapun masih direncanakan untuk hidup sepertinya. Namun sekarang tak seperti dulu. ya semua memang berubah, tapi mengapa mengalami penurunan?
Globalisasi? Modernisasi? Atau kata apalagi yang patut digunakan sebagai kambing hitam? Menurut saya, kita sebagai warga negara indonesia asli yang salah. Kita terlalu terlena dengan kesempatan-kesempatan yang ada. Kita mencoba mengenal negara-negara asing, negara-negara maju, dan mencoba mengadaptasikan gaya mereka. Namun menurut saya itu tak berhasil membuat kita tetap menjadi warga negara indonesia asli. Kita hanya imitasi mereka yang terlalu terlena.
Kita melupakan satu hal, globalisasi disini dimaksudkan untuk memajukan negara kita sendiri. seharusnya kita membandingkan bukan mengimitasikan. Seharusnya kita semakin sadar dan berusaha bersaing dengan negara luar yang maju dengan cara kita sendiri. selama kita menjadi diri kita sendiri, dalam hal ini menjadi warga negara indonesia asli, saya yakin kita yang nantinya menjadi pusat. Dalam segala bidang. Mungkin batik menjadi fashion yang sangat dikagumi di dunia. Mungkin tempat wisata kita menjadi yang terbaik dan di inginkan. Dan masih banyak kemungkinan lainnya selama kita tak melupakan jati diri kita dan menjaganya. dan bukan pula hanya mengkritik dan berbuat apa-apa, seperti saya.
Bukannya terlalu sibuk menghabiskan harta untuk menghidupi negara lain. Toh negara sendiri ajah masih bobrok kok malah hura-hura dinegara lain. Sampai kapan? sampai kapan apatis? sampai kapan berkutub barat? Sampai kapan hanya mengkritik? Sampai kapan hanya berdemo? Sampai kapan mengabaikan produk dalam negeri? Katanya cinta indonesia, tapi kok malah ga perhatian?
Ini juga merupakan tamparan untuk diri saya sendiri. sampai kapan saya hanya mencintai indonesia tanpa bertindak apa-apa? 

No comments:

Post a Comment