Jadi
orang indonesia itu unik dan ga susah, menurut pemikiran saya. Tadi sore
(selasa 9/4) saya pergi ke salah satu pedesaan dekat universitas saya di
cikarang. Dengan niat untuk mencari keluarga kurang mampu dalam segihal
pendidikan. Kami akan mencoba meringankan beban mereka sedikit dengan
memberikan apa yang anak mereka inginkan seperti halnya baju seragam, buku,
atau lainnya. Acara kami berjudul Grand Of Hopes dan saya terpilih mengemban
tanggung jawab sebagai dokumentasi.
Saat
kami sedang meninjau, tenyata esok hari akan diadakan acara pernikahan bagi anak
salah satu penduduk disana. Anak bontot (anak terakhir) katanya. Dan yang
sedang berduduk-duduk dekat tenda itu adalah ibu mempelai dengan cucunya. Saya
langsung berfikir, betapa mudah menjadi penduduk indonesia? Penduduk indonesia
asli. Untuk mengadakan acara resepsi tinggal sebar undangan yang tak usah
terlalu bagus dan mahal tapi menarik, pasang tenda sederhana depan rumah,
siapakan makanan seadanya dan jadilah acara resepsi nikahan anak anda.
Semua
orang bahagia. Tak perlu pakai wedding organizer atau semacamnya, toh para
undangan akan tetap bahagia. Apalagi jika makanan asli indonesia yang
lezat-lezat dihidangkan. Begitu juga dengan keramahan orang indonesia. Kita
tahu jika ada acara pernikahan, kita tinggal pake batik dan salam-salaman
sebelum mengambil hidangan. Walau kita tidak mengenal pengantin ataupun
keluarganya. jarang atau mungkin tidak ada yang mengusir. Orang indonesia itu
baik-baik.
Tapi
semua berubah setelah negara api menyerang. #loh. Negara api yang dimaksudkan
saya adalah globalisasi. Sekarang tdak sedikit orang indonesia yang gila harta
dan jabatan. Kata toleransi, gotong royong, ramah-tamah sudah minim dijumpai.
Terutama di kota-kota besar. Sungguh disayangkan, banyak perumahan-perumahan
yang cukup besar tapi tak berpenghuni. Maksud daya disana jarang ada interaksi.
Apa bedanya perumahan tersebut dengan kuburan? Tak saling mengenal dengan
tetangga dan tak ada interaksi satu sama lain. Mungkin ada, namun terlihat
minim.
Bagi
saya mereka warga negara indonesia, namun telah meninggalkan keaslian mereka.
Dari dulu indonesia sudah dikenal dengan negara yang berbudaya. Dari majalah
natgeo yang saya baca (edisi bulan mei 2013), banyak negara-negara asing yang
datang ke indonesia karena ketenaran budaya indonesia terutama budaya jawa,
dahulu. Pada saat nenek sayapun masih direncanakan untuk hidup sepertinya.
Namun sekarang tak seperti dulu. ya semua memang berubah, tapi mengapa
mengalami penurunan?
Globalisasi?
Modernisasi? Atau kata apalagi yang patut digunakan sebagai kambing hitam?
Menurut saya, kita sebagai warga negara indonesia asli yang salah. Kita terlalu
terlena dengan kesempatan-kesempatan yang ada. Kita mencoba mengenal
negara-negara asing, negara-negara maju, dan mencoba mengadaptasikan gaya
mereka. Namun menurut saya itu tak berhasil membuat kita tetap menjadi warga
negara indonesia asli. Kita hanya imitasi mereka yang terlalu terlena.
Kita
melupakan satu hal, globalisasi disini dimaksudkan untuk memajukan negara kita
sendiri. seharusnya kita membandingkan bukan mengimitasikan. Seharusnya kita
semakin sadar dan berusaha bersaing dengan negara luar yang maju dengan cara
kita sendiri. selama kita menjadi diri kita sendiri, dalam hal ini menjadi
warga negara indonesia asli, saya yakin kita yang nantinya menjadi
pusat. Dalam segala bidang. Mungkin batik menjadi fashion yang sangat dikagumi
di dunia. Mungkin tempat wisata kita menjadi yang terbaik dan di inginkan. Dan
masih banyak kemungkinan lainnya selama kita tak melupakan jati diri kita dan
menjaganya. dan bukan pula hanya mengkritik dan berbuat apa-apa, seperti saya.
Bukannya
terlalu sibuk menghabiskan harta untuk menghidupi negara lain. Toh negara
sendiri ajah masih bobrok kok malah hura-hura dinegara lain. Sampai kapan? sampai kapan apatis? sampai kapan berkutub barat? Sampai kapan hanya mengkritik? Sampai kapan hanya berdemo? Sampai kapan
mengabaikan produk dalam negeri? Katanya cinta indonesia, tapi kok malah ga
perhatian?
Ini
juga merupakan tamparan untuk diri saya sendiri. sampai kapan saya hanya
mencintai indonesia tanpa bertindak apa-apa?
No comments:
Post a Comment