saya sering berfikir, sangat sering, tentang bakat yang saya miliki. olahraga? sepertinya sangat bukan bidang saya. saya hanya menyukainya atau lebih tepatnya menontonnya. kesenian? saya termasuk sulit belajar seni. mungkin saya agak kreatif. agak ya? tapi sepertinya tetap saja saya sulit mempelajari kesenian. sampai menulis sepertinya saya hanya bisa, bukan expert. dan saya berfikir apa saya memang tak memiliki bakat? selain bakat berbadan besar tentunya. haha..
tapi saya tak lantas menyerah. ya, kadang saya merasa minder dan malu karena saya tak punya apa-apa untuk di tonjolkan. bahkan di depan umum atau didepan teman-teman pun saya termasuk sulit berbicara, bercerita, atau berkomunikasi dengan baik. tapi ya tadi, saya tak lantas menyerah.
saya masih beryukur saya memiliki tenaga yang cukup dengan indra yang lengkap. saya bersyukur saya masih bisa melakukan segalanya. karena saya rasa ketidak milikin saya akan bakat adalah anugrah bagi saya. saya jadi sadar bahwa saya tercipta bukan untuk berleha dan berpuas dengan bakat saya. saya di lahirkan dengan perjuangan oleh ibu saya, dibesarkan dengan susah payah oleh orang tua saya, dan pada akhirnya saya sendiri harus berjuang dan bersusah payah untuk menjadi besar nantinya.
ketidak milikan saya akan bakat membuat saya sadar. saya adalah orang yang harus selalu berusaha. ya, kadang memang saya merasa lelah. tapi toh selalu ada malam yang menemani istirahat saya. selalu ada pundak kedua orang tua saya untuk menyimpan resah. masih ada rifa dan sahabat-sahabat saya untuk sekedar merelekskan rongga mulut saya dengan tawa. terlebih saya memiliki Allah yang selalu tahu kondisi saya. saya memiliki segalanya tanpa saya sadar.
karena siapa bilang tanpa bakat orang ga bisa sukses? banyak kok yang sukses tanpa bakat. tapi sedikit yang sukses tanpa usaha. jika saya boleh jujur kadang saya lebih suka orang lain memandang saya bukan apa-apa. seperti membuat kejutan dengan cara saya menjadi siapa-siapa dikedepannya. karena toh kita tak boleh menilai buku hanya dari sampulnya bukan?
dengan rasa syukur ini lah saya melangkah, tersenyum, dan ikhlas. saya masih punya hidup untuk di optimalkan. saya masih punya lingkungan yang baik dan saya masih punya Allah. langkah saya mungkin tak sebesar langkah kalian, atau mungkin bisa dibilang saya sedang merayap sekarang. tapi inilah yang akan membentuk kuat otot-otot kehidupan saya yang akan berguna di masa mendatang.
makanya, yuk bersyukur! :)
No comments:
Post a Comment