entah mengapa belakangan ini banyak yang harus saya pikirkan. keadaan yang membuat saya tertekan ini malah membuat saya tak memikirkan apa-apa. kekanak-kanakan memang, tapi begitu adanya. saya semakin malas mengambil keputusan berjangka panjang karena waktu berfikirpun sedikit. atau saya malah lebih memilih membaca komik dari pada kesal sendiri.
belakangan ini juga saya sudah memulai mengambil langkah untuk melakukan apa yang saya mau. saya mulai tidak peduli dengan kata orang, dan menghilangkan rasa toleransi dan tidak enakan saya. untuk beberapa bagian, itu memang menyenangkan dan membuat saya menjadi apa adanya. tapi disisi lain, ini tak semudah itu.
dengan banyak nya acara dan hal-hal yang saya pikirkan membuat otak saya menjadi rumit. saya tidak tahu mana yang harus diprioritaskan. ditambah, with the name of "be myself" membuat saya menjadi agak tidak percaya dengan kinerja orang lain. membuat saya sedikit perfeksionis. dan itu membuat saya merasa, kebebasan saya arus mengorbankan beberapa orang disekitar saya,
mungkin ada beberapa orang yang terbiasa dengan perubahan dan hidup keras, tapi beberapa tidak. dengan menjadi diri sendiri bukan berarti saya harus keras dan tidak peduli pada orang lain bukan? karena pada suatu saat saya tahu saya akan membutuhkan mereka, dan saat ini pula kita menjadi individual yang saling membutuhkan.
saling membutuhkan ini harus didasari rasa nyaman pula. disaat kita nyaman, kita pula akan datang saat butuh. tapi hidup tidak sebaik pandangan para liberalis. kadang rasa nyaman yang kita berikan, menjadi candu pada orang lain. ia terus berada di pangkuan kita dan terus saja begitu. namun, disaat kita berdiri dan melepaskan pangkuan serta berkata "duduklah di tempatmu sendiri" tidak semua orang menerimanya. kadang ia akan merasa dongkol dan menganggap kita bukan orang yang asik untuk dijadikan teman. sehingga pada akhirnya kita harus memilih, menyamankan diri kita sendiri atau orang lain?
No comments:
Post a Comment