semenjak masa-masa putih abu-abu gue dan konco kocak gue sudah menyadari satuhal, menjadi realistis itu mempet dikit sama yang namanya pesimistis atau dengan kata lain, ketika kita melihat sesuatu sebagai hal yang realistis kita menjadi seseorang yang sedikit pesimis. bagaimana mungkin?
ini terjadi juga dengn gue yang belakangan semangat banget jadi diplomat atau presiden, semangat banget jadi ketua bem, semangat banget sibuk dengan organisasi dan semacamnya tapi setelah melihatnya dengan aspek yang lain (bukan hanya bermimpi) saya sedikit sadar bahwa itu tak semudah yang direncanakan. hidup bukan hanya untuk direncanakan, tetapi dijalankan.
melihat sesuatu yang ada, semua terlihat sulit dan kadang orang berkata "yah realistis sajalah.." dan disaat itu juga kita jiper. kita sedikit pesimis dan berfikir "iya juga sih," dan mengubur mimpi kita. rencana indah itu.
cerita lain. gue punya temen yang semenjak dulu berencana dan bercita-cita banget menjadi dokter. dia pintar tapi dia tak berhasil masuk ke salah satu SMA negeri favorit di Bogor. setelah ngobrol-ngobrol lagi sama dia ternyata dia masuk fakultas sastra di salah satu universitas terkenal di pulau Jawa ini.
gue nanya ke dia "kenapa ga masuk kedokteran?" dia bilang ternyata masuk kedokteran itu susah dan peminatnya banyak. dia menjadi sedikit realistis tapi secara tidak langsung dia menjadi pesimis, setidaknya itu yang gue tangkep.
selain itu salah satu faktor lainnya umur, menurut gue umur kita itu berbanding lurus dengan tingkat ke realistisan kita dalam memandang suatu hal. mungkin karena kita mulai melihat dunia dari segala aspek, terutama melihat semua halangan dari cita-cita kita yang pada akhirnya itu membawa gue kedalam kesimpulan lain bahwa peningkatan umur itu sendiri berbanding terbalik dengan mimpi dan cita-cita kita. sadar kan kalo semakin kita besar kita semakin lupa dengan cita-cita kita (setidaknya kebanyakan orang seperti itu) atau setidaknya menyimpannya agar tetap menjadi mimpi.
kalo kata anak gaul "wake up guys! YOLO!" you only life once. yah, setidaknya semungkin apapun lu masuk surga ya lu cuman punya sekali ini hidup di dunia, lu hanya bisa sekali ini jadi dokter, cuman disini lu bisa jadi presiden, dan cuma di bumi ini lu bisa menjadi sesuatu yang lu mau.
semua ini membawa gue dari tidurnya rasa ambisius gue. rasa yang sempat hilang dan membuat gue hampa. gue mungkin dituntut realistis, tapi gue ga mau itu membuat gue berdiam dan tak melakukan apa-apa. gue harus kembali semangat, kembali memiliki semngat yang dulu. kembali memiliki mimpi!
No comments:
Post a Comment